Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Antara
taman mawar dan kebun binatang
Di
taman hatiku ternyata
ada merak sang congkak dan kambing sang keras kepala
ada juga babi si kotor rakus dan bahkan kura-kura si bantal iblis
Masih lagi
ada harimau si pemarah
pun si licik ular sang penggoda
dan juga serigala si ganas licik
Jika demikian
hatiku ini laksana area kebun binatang
(Pada Sepotong Catatan)
…
Benar, secara filosofis dan simbolis, sekeping hati sang manusia itu, sungguh bagaikan sebuah kebun binatang.
Sungguh binatang-binatang itu justru sudah beranak pinak di sana sejak hadirnya sang manusia di atas bumi maya ini.
Bukankah sejak semula, bahkan kakek nenek kita pun secara tradisi telah menjuluki para anak cucunya dengan julukan sifat-sifat khas?
Seperti ucapan berikut, “Ruben, kau tampak bagaikan seekor harimau lapar, di saat kau marah. Kau, Simeon setiap kali saat dipanggil, kau selalu ibarat seekor kura-kura. He, kau si licik Yudas, ada ular bersarang di dada batinmu, karena sering, kamu bersikap curang dan licik.”
Julukan-julukan yang berlatar belakang sebuah kritik menghujam ini, mungkin hanya terkesan sebuah guyonan ringan. Namun, sejatinya tuturan ini merupakan sebentuk lampu merah alias peringatan keras bagi sang pemilik sifat-sifat culas itu.
Kehadiran dan keberadaan kita di dalam sebuah komunitas hidup, kapan dan di mana pun tentu, akan meninggalkan sebuah kesan bagi sesama.
Siapakah sesungguhnya Anda itu bagi mereka? Apakah Anda itu bagai seekor harimau lapar ataukah seekor kura-kura latah? Ataukah mungkin, Anda hanyalah ibarat seekor tikus basah yang serba gagap?
Saudara, entah hingga kapan, julukan serta ironi itu akan terus membayangi langkah hidup Anda. Bagaikan sebuah cap kekal yang bahkan sudah menjadi ciri khas Anda.
Jika memang sudah dicap demikian, maka sungguh sangatlah disayangkan, dan betapa pahitnya kehadiran serta keberadaan Anda di sini.
“Hai kamu keturunan ular beludak . . .”
(Mateus 12 : 34)
…
Kediri, 12ย Desemberย 2023

