Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Rahmat terbesar dapat Anda peroleh, kala kedua tanganmu ikhlas terulur”
(Amanat Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Memberi adalah verba atau sebuah kata kerja aktif. Yakni, sebuah aktivitas mengulurkan tangan untuk menyerahkan sesuatu kepada pihak lain.
Kita pun sangat sering mendengar kata ‘memberi’ itu digunakan sebagai sebuah frase di dalam aktivitas hidup harian kita.
Semisal: memberi hati, sedekah, janji, pidato, perhatian, cinta, memberi hadiah, dan memberi diri โฆ
Sejatinya, hal ini mau membuktikan, bahwa aksi memberi itu adalah sebuah aktus yang bermakna suatu penyerahan total. Artinya, saya atau kami menyerahkan sesuatu kepada dia atau mereka.
Ada dua buah idiom bermakna dalam:
(1) memberilah hingga engkau kehabisan.
(2) memberilah sampai engkau ketiadaan.
Kedua buah ungkapan ini, bermakna sangat positif dan mulia.
Kebijaksanaan telah mengajarkan kita, bahwa, jika engkau ingin hidup berbahagia dan berkelimpahan, maka memberilah!
Jauhilah semua tindakan dari sekadar berbasa-basi, seperti yang tercermin di dalam ungkapan, “memberi dan menerima.” Mengapa? Di dalam tindakan memberi, kita melakukan sebuah aksi ikhlas menyerahkan dan tanpa menuntut sebuah balasan.
Pernahkah kita mendengar sebuah pesan sangat heroik, lewat ketulusan seorang janda miskin yang menyerahkan setengah dari buah apel miliknya, ke dalam tangan Baginda Raja?
Dari tumpukan aneka pemberian berharga itu, ternyata sang Raja hanya tersentuh hatinya, pada pemberian si janda miskin itu.
Setelah diselidiki, mengapa sang Raja justru bersikap demikian, maka sahut sang Raja, “Ya, saya sadar, bahwa sang janda miskin ini, telah memberikan semua dari harta yang dimilikinya.โ
Ada pun amanat yang terkandung di dalamnya, hendaklah kita, belajar untuk selalu ikhlas di saat memberi!
“Hendaklah, tangan kirimu tidak tahu, apa yang dilakukan oleh tangan kananmu.”
(Pesan Sang Guru Agung)
Kediri, 21 Desember 2023

