Oleh: Fr. M. Christoforus BHK
Manusia sejagad, telah mengklaim dirinya, sebagai ‘mahkota’ (corona), segala ciptaan, bahkan citra teragung Tuhan.
Bahwa manusialah ciptaan yang bernalar rasional dan berbudi luhur mulia.
Tatkala Adam dan Bunda Hawa terpental ke dalam tabir dosa, maka tumbuhlah onak dan duri di Eden, simbol hati manusia.
Firman Tuhan, “dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, penzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat.”
Maka, dosa-dosa manusia itu dapat disimbolkan dengan aneka perangai unik binatang-binatang.
Jika manusia itu doyan berlagak dan bercongkak ria, maka dia disimbolkan sebagai burung merak, karena rajin pamer diri.
Jika manusia itu doyan berkeras kepala, maka dia disimbolkan sebagai kambing.
Jika manusia itu doyan mengumbar hawa nafsu dan rakus, maka dia disimbolkan sebagai babi.
Jika manusia itu doyan bermalas ria alias bantal iblis, maka dia disimbolkan sebagai kura-kura.
Jika manusia itu doyan marah-marah dan kejam, maka dia disimbolkan sebagai harimau.
Jika sang manusia itu doyan berbohong, maka dia disimbolkan sebagai ular si penggoda.
Jika manusia itu doyan mencuri, maka dia disimbolkan sebagai si licik serigala.
Inilah taman hati manusia, tatkala ia mengingkari kesucian taman Eden. Di sana akan meriap onak dan duri, permusuhan, sengketa, kelaliman, dan aneka kejahatan.
Maka, sesungguhnya, taman hati manusia itu juga adalah sebuah kebun bintang.
“Alangkah kejinya hati manusia itu!”
Kediri, 22 September 2025

