“Merayakan Natal itu setiap hari, karena hidup ini harus selalu diperbarui agar makin baik dan berkenan bagi Tuhan.” -Mas Redjo
Memperingati Natal setiap 25 Desember itu benar. Tapi bagi orang beriman menghidupi semangat Natal itu harus setiap hari. Karena ‘urip kuwi urup’. Kita adalah secitra, segambar dengan Sang Pencipta.
Semangat Natal adalah titik balik kita untuk terus menerus perbarui diri, karena hati kita adalah palungan-Nya.
Kelahiran Yesus itu tidak sekadar dirayakan secara ceremonial, lalu dilupakan seiring pergantian waktu. Tapi harus jadi motivasi kita untuk bertumbuh dalam iman. Ibarat bayi, iman kita harus diberi asupan yang bergizi, dirawat, dan dibesarkan dengan limpahan kasih. Sehingga iman kita menghasilkan banyak buah.
Hati kita itu palungan bayi Tuhan Yesus yang harus dijaga seksama kebersihannya setiap hari, bahkan sepanjang hidup kita.
Caranya adalah, hidup kita harus diorientasikan dan fokus untuk berpikir positif dan melakukan hal-hal baik. Seia-sekata antara pikiran, perkataan, dan perbuatan agar berkenan bagi Tuhan.
Dengan berpikir positif dan didasari kasih, kita melakukan hal-hal baik sebagai saluran berkat-Nya.
Dengan rajin menerima Ekaristi Kudus, membaca KS atau renungan rohani, berdoa, dan bermati raga itu kita menjaga kesucian hati.
Dihidupi dengan Ekaristi Kudus, jiwa kita dikenyangkan dan disegarkan dalam kelimpahan belas kasih Tuhan.
Mas Redjo

