(Banyak janji). Setelah dilantik menjadi pengurus (baca: pejabat), merasa tahu dan bisa apa saja. Banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Jadi sembrono dan jatuh dalam ide ‘nyleneh’. Misalnya, program blusukan seperti caleg. Jika Bu Risma yang blusukan, langsung jadi trending topik.Tapi beda ceritanya, jika Si Abas yang biasa angon bebek di sawah itu yang blusukan, paling dapat komentar tetangga: “ho-oh, nggak ada kerjaan po!”
(Impulsif). Seringkali bertindak sesukanya tanpa mdmikirkan konsekuensinya. Ketika muncul dorongan untuk melakukan sesuatu. Misal blusukan, langsung melakukannya tanpa pikir panjang. Dampaknya umat merasa ditinggalkan dalam pergumulannya. Pengurus ‘mlaku dhewe’ dan Gereja berjalan bersama tidak terlaksana.
(Asing). Umat merasa asing di rumahnya sendiri. Program yang tidak dirancang dengan baik, dan yang tak berpusat pada kebutuhan umat pasti tidak didukung, karena umat merasa tidak memiliki program itu.
(Syak). Gerak-gerik Dewan yang tidak transparan akan menimbulkan curiga (syak, kurang percaya). Jika umat merasa syak sebenarnya sudah habis. Kehadirannya tidak memberi apa-apa lagi.
Agar kehadiranmu diterima umat, hentikan ‘bias’ dalam tiap langkah pelayananmu. Bias pasti membingungkan seperti arti kata itu sendiri.
Salam sehat dan dengarkan bisikan hatimu, bukan bisikan lain.
…
Jlitheng

