Calon Mantu – 15 | Oleh Mas Redjo
Saya prihatin. Jika Wen mabuk cinta, sehingga mati rasa dalam berpikir jernih. Bukan saya takut atau tidak punya pemasok barang dari pabrik lain. Melainkan saya makin penasaran dengan perubahan sikap Wen yang seperti menyederhanakan masalah itu. Padahal mencari pelanggan itu tidak mudah, apalagi merawat hubungan dan mempertahankannya.
Sifat Wen sangat mirip dengan Ayahnya, Pak Hasan. Pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan sifat Ayahnya lebih dominan ketimbang Ibunya. Karena saking pendiamnya, Wen cenderung โintrovertโ, tertutup. Jika marah, Wen lebih banyak diam. Kesannya, Wen tidak mau berbagi, dan memendam masalah itu.
Sebaliknya dengan Pak Hasan. Ia lebih terbuka. Jikapun menegur dengan sangat berhati-hati.
Keprihatinan saya kepada Wen, bukan karena hubungan kerja yang kurang sehat, melainkan Wen tidak bakalan mampu meneruskan usaha Ayahnya, jika sikapnya sekaku itu. Padahal menjalin relasi itu tidak terbatas sekadar membangun hubungan semata, tapi membangun nurani untuk saling memahami, silaturahmi, sekaligus membangun ikatan emosi. Sebab relasi tanpa kedekatan emosi itu membuat hubungan mudah terlepas, apalagi tanpa silaturahmi untuk saling memahami.
Pengalaman Wen yang belum matang dalam bisnis dan kekhawatiran yang dipengaruhi orang terdekatnya, yakni pacarnya, membuat logikanya tidak sejalan. Sebrengsek-brengseknya pelanggan misalnya, juga harus ditanggapi; diperhatikan. Karena karakter pelanggan yang satu dengan yang lain itu tidak sama. Banyak macam dan perangainya. Sesungguhnya, dukungan dari semua pelanggan itu yang membuat perusahaan jadi besar dan kuat.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 15 | Haruskah Miliki Pabrik Sendiri?

