Dasar permenungan kita adalah Amsal 16: 25 “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Dalam hidup, kita kerap disetir oleh apa yang tidak kita ketahui kebenarannya. Ada jalan yang kita sangka lurus, ternyata jurang besar menganga. Kita tahu justru di ujung senja usia kita. Mengapa?
Ada satu kekuatan pribadi yang disebut ‘sense of self’ yang membantu kita untuk mengenali sesuatu yang memotivasi kita, dan yang tidak. Umumnya disebut kearifan.
Dalam Lukas 5: 1-11, ada satu istilah yang dikenal sebagai syarat terjadinya ‘sense of self’ atau kearifan iman, yakni bertolak ke tempat yang dalam atau duc in altum.
Dikisahkan pertemuan Petrus dengan Tuhan Yesus. Bermula dari kegagalannya menangkap ikan (pengalaman), setelah berusaha semalaman. Pertemuan dengan Tuhan Yesus menyadarkan Patrus, dengan siapa dia berhadapan. Perintah Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam saat hari makin siang, untuk menangkap ikan, sungguh tak lazim. Malam adalah waktu terbaik, dan mereka telah gagal. Siang hari sungguh tak bisa dipahami, jika berharap akan mendapat ikan. Namun, karena perintah Sang Guru, didasari rasa hormat terhadap seorang Rabbi, Petrus memenuhi permintaan Yesus. Kejutan besar terjadi, jala mereka penuh dengan ikan, bahkan hampir koyak. Sebuah peristiwa besar bagi Petrus. Yang menarik, Petrus tidak tengelam dalam keasyikan mendapatkan hasil yang besar setelah semalaman gagal. Petrus tersadar dengan siapa dia berurusan. Tersungkur di depan Tuhan Yesus sebagai wujud hormat sangatlah tepat. Petrus sadar, sesadar-sadarnya, bahwa dia berhadapan dengan Guru Agung, dan Petrus tahu, bagaimana menempatkan dirinya, yaitu tersungkur hormat. Bukan saja menghormat kepada Tuhan Yesus, Petrus juga merasa tidak layak. Dia merasa diri sebagai pendosa. Sebuah pengenalan diri yang sangat baik, dan pengenalan Tuhan yang sangat tepat. Dalam perjalanan pelayanannya, Petrus memang pernah menyangkal Tuhan Yesus, ketika Yesus menjalani salib. Petrus tergoncang hebat dan kehilangan jati diri. Tapi itu tidak berlangsung lama, ia cepat kembali menemukan diri yang terhilang, dan kembali ke jalan Tuhan.
Mungkin di antara kita, di senja usia ini, setelah perjalanan panjang yang kita lalui, kita mengalami peristiwa seperti tertulis dalam Amsal 26: 25 “dikira jalan lurus …. jebule.” Duc in altum, bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Guru kita akan memberi jalan. Percayalah!
Salam sehat dan senang berbagi cahaya demi yang terhilang.
…
Jlitheng

