| Red-Joss.com | Berani menentukan sikap itu yang hendak diambil dan diputuskan Mas Cantrik.
Hari ini adalah penentuan nasibnya. Ia menuruti permintaan Ki Demang atau menolak dengan konsekuensi bakal dirajam.
Jika mencari amannya dan selamat berarti ia harus menikahi Nyi Suci. Cita-cita dan impian banyak orang. Menikah dengan wanita terhormat, kaya, dan cantik. Lebih daripada itu, bahkan diberi jabatan pula. Siapa orangnya yang tidak tergiur?
Kekuasaan itu menyilaukan mata. Dari zaman ke zaman, kekuasaan itu selalu direbutkan. Tidak peduli berapa banyak nyawa dan harta dikorbankan untuk memperolehnya. Bahkan banyak orang yang rela menjual kehormatan diri demi dekat dan mencicipi nikmat kekuasaan.
Demi kekuasaan itu pula orang rela menggunakan seribu topeng wajah kemunafikan.
Mas Cantrik mengamati Nyi Suci. Mereka beradu pandang. Nyi Suci menunduk.
“Maaf, Nyi,” ujar Mas Cantrik ragu. “Jika boleh usul menyampaikan ide mengenai pernikahan itu. Semoga Nyimas jangan salah tafsir atau marah…”
“Ya, soal apa…?”
“Apa mungkin kita berpura-pura menikah…”
“Maksudmu?!” Nyi Suci tersentak seperti digigit kalajengking.
“Izinkan saya untuk menjelaskan hal itu lebih dulu.”
Wajah Nyi Suci memerah. Ia manggut mengiyakan.
“Kita baru kenal di pesta, dan tidak saling mengenal. Apa mungkin kita diikat dalam suatu pernikahan yang dipaksakan? Kita berpura-pura, tapi tidak saling mencintai.”
Mas Cantrik menarik nafas untuk menenangkan hati.
“Apakah mungkin, setelah menikah kita ke luar dari Pademangan untuk menentukan sikap masing-masing. Semisal Nyimas mau meninggalkan saya, atau agar cinta itu bertumbuh lebih dulu…”
Nyi Suci diam, memainkan ujung rambutnya yang panjang tergerai.
“Jujur Nyimas, saya memang orang bodoh. Sejak dulu saya tidak tertarik di lingkup kekuasaan. Saya menolak ajakan Ki Demang. Karena saya bakal tidak bisa membaktikan ilmu pengobatan saya pada masyarakat.”
Mas Cantrik diam melihat reaksi Nyi Suci agar Nyi Suci juga memahami.
“Jika Ki Demang memaksa saya menikah dengan Nyimas agar saya membantunya, saya rela dirajam demi menjaga kehormatan itu.”
Nyi Suci menekur. Ia tidak tahu, harus bersikap bagaimana.
“Seandainya Kangmas memberimu kebebasan untuk menentukan sikap?!” tanya Nyi Suci bergumam, seperti ditujukan pada diri sendiri.
“Kau lebih mengenal Kangmasmu, Nyimas.”
“Ya, saya sendiri pun ragu. Apa Mas Cantrik ada ide lain?”
“Saya bisa melarikan diri untuk ke luar dari Pademangan ini. Tapi bagaimana dengan Padepokan Guru Bijak. Ki Demang bisa saja melampiaskan kemarahan di sana. Karena saya muridnya. Seandainya ia melampiaskan pada Nyimas yang gagal membujukku?”
“Apa itu mungkin?!”
“Kemungkinan itu ada. Apalagi orang yang dibutakan oleh ambisi kekuasaan. Sehingga banyak di antara mereka kehilangan akal sehat.”
“Aku jadi takut, Mas Cantrik.”
“Ia itu Kangmasmu, Nyimas,” Mas Cantrik mencoba menenangkan hati Nyi Suci. Tapi sorot mata Nyi Suci tampak ragu dan was-was.
“Saya harus bagaimana…?!”
“Lebih baik kita memohon pada Sang Hyang Widi untuk kebaikan bersama,” saran Mas Cantrik. Tapi hatinya tidak tenang.
Mungkinkah Ki Demang yang ambisius itu mau mengalah?
…
Mas Redjo

