| Red-Joss.com | “Eling lan waspada, Ngger.”
Tiba-tiba suara itu mendengung di telinga Mas Cantrik. Suara Gurunya seperti mengingatkan. Sehingga ia segera tersadar dari pesona Nyi Suci.
Mas Cantrik segera menenangkan diri.
“Maaf, Nyi Suci. Angin apa yang membuat Nyimas pagi-pagi ke sini,” sapa Mas Cantrik sambil tersenyum renyah.
“Sekadar mengingatkan sebelum Mas Demang ke sini. Saya harus bersikap bagaimana…,” kata Nyi Suci tenang. Sorot matanya tajam bagai mata pisau yang membuat hati lelaki jadi kesengsem.
Mas Cantrik mencoba bersikap setenang mungkin agar tidak grogi. Ia tidak mau gegabah dan salah langkah, hingga terpeleset lagi. Anggur yang memabukkan itu telah membuatnya bermasalah. Padahal ia tidak banyak minum. Mungkinkah ia diperdaya agar terperangkap?
Ia ingat kembali, ketika Ki Demang menawarinya bekerja untuk jadi orang kepercayaannya, karena ia mumpuni dalam olah kanuragan dan pengobatan. Tapi permintaan itu dengan halus ditolak. Ia ingin bebas dan membaktikan ilmunya untuk kemanusiaan. Ia juga tidak silau dengan harta dan pangkat.
“Apa karena tidak mau ditolak itu Ki Demang lalu menyodorkan Nyi Suci padaku?” pikirnya. Tapi prasangka buruk itu segera dibuangnya. Tidak ada salahnya bersikap hati-hati dan waspada.
“Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana Nyi Suci. Tapi, sekali lagi saya minta maaf, karena telah membuat Nyimas malu,” kata Mas Cantrik sambil melihat reaksi Nyi Suci. “Bagaimana dengan Nyimas sendiri?”
“Saya sendiri tidak tahu. Hal itu sepenuhnya saya serahkan pada keputusan Mas Cantrik.”
“Jika saya tetap pada keputusan semula?!”
Nyi Suci terperangah. Ia bergumam tak jelas. Wajahnya berangsur-angsur jadi murung.
“Sepenuhnya keputusan itu ada pada Mas Cantrik. Saya tidak mau mempengaruhi. Tapi alangkah bijak, jika Mas Cantrik berpikir ulang.”
“Tapi saya harus menjaga nama baik padepokan dan kehormatan saya,” tegas Mas Cantrik.
“Sekalipun itu perbuatan konyol?”
“Maksudmu?”
“Ya, karena Mas Cantrik bakal mati konyol dan sia-sia. Menjaga nama baik dan kehormatan, tapi tidak ada artinya. Misalnya, kita bertobat, tapi untuk berubah…”
Mas Cantrik diam. Ia mencoba mencerna arah kata-kata Nyi Suci.
“Karena saya bodoh, jelek, dan tidak dianggap…”
“Maaf! Tidak seperti itu. Nyimas jangan salah tafsir. Menurut saya, Nyimas itu wanita terhormat, anggun, dan baik…”
“Tapi apakah ada wanita baik-baik yang mendatangi laki-laki?” kata Nyi Suci lirih sambil menutupi wajah dengan telapaknya.
“Bisa jadi Nyimas terpaksa. Semua itu ulah saya,” Mas Cantrik risau. Ia ingin menenangkan hati Nyi Suci, dan mengusap air mata itu…
Perlahan tapi pasti, Mas Cantrik bersimpati pada Nyi Suci. Getaran hatinya bagai ombak di lautan. Jika ia menuruti permintaan Ki Demang untuk menikahi Nyi Suci, apakah ia boleh meninggalkan Kademangan? Atau sebaliknya, ia makin diikat oleh Ki Demang untuk membantu pemerintahannya?
…
Mas Redjo

