| Red-Joss.com | Sepulang adik seperguruannya, Mas Cantrik mencoba berhening diri. Diam. Berkontemplasi doa mohon pencerahan Sang Hyang Widi. Tapi ia tidak segera menemukan jalan ke luarnya.
Hatinya galau. Wajah Nyi Suci mengusik hati.
Mas Cantrik ingin bertemu dengan Nyi Suci untuk berterus terang, jujur, dan bicara dari hati ke hati agar semua jadi benderang. Jika bisa untuk kompromi, mengatur strategi demi kebaikan, kehormatan, dan keselamatan bersama.
Ternyata sekadar berharap itu bagai si pungguk merindukan bulan alias percuma dan sia-sia. Sebagai seorang wanita yang terpandang dan terhormat tidak mungkin Nyi Suci menyambanginya ke penjara! Karena hal itu jelas permalukan diri dan merendahkan martabatnya!
Bagi Mas Cantrik kabur dari penjara itu hal yang gampang. Faktanya ia tidak dijebloskan ke dalam penjara, tapi sebagai tahanan rumah. Ia diperlakukan sangat baik. Segala kebutuhannya dipenuhi. Karena ia dianggap sebagai tamu istimewa Ki Demang. Ia juga boleh menerima tamu, tapi sebatas orang terdekatnya, dan spesial.
Meski diperlakukan istimewa dan tidak dianggap sebagai tahanan, Mas Cantrik merasa kebebasannya dipasung.
Jika ingin kabur melewati penjaga di luar rumah itu juga mudah. Tapi hal itu tidak dilakukannya.
Persoalannya, jika ia nekad kabur untuk meloloskan diri, urusan bisa jadi memanjang dan makin runyam.
Ia bisa dituduh dan dicap sebagai perusak martabat baik keluarga dan melawan Ki Demang. Karena mempermalukan dan menghina adiknya, Nyi Suci.
Selain itu, padepokan Guru Bijak jadi terseret-seret perbuatannya, dan cemar. Semua itu salahnya, dan ia harus bertanggung jawab.
Sesungguhnya yang membuat hati Mas Cantrik galau, karena sekarang batas waktu yang diberikan Ki Demang untuk minta kepastiannya, atau ia adili dan dihukum rajam.
Ketika gundah gulana itu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Mungkinkah itu Ki Demang…?
Pintu dibuka. Seorang pengawal muncul tergopoh-gopoh, diiringi oleh Nyi Suci!
Jantung Mas Cantrik berdegup kencang sekali. Ia sungguh tidak menyangka, kalau tamu yang datang itu ternyata Nyi Suci!
Nyi Suci menatap Mas Cantrik dengan lembut. Wajahnya merona merah dan bibirnya tersungging senyum manis. Ah!
Darah Mas Cantrik terkesiap. Ia bengong seperti disirep.
“Boleh saya duduk…?” kata Nyi Suci lirih, lirih sekali.
Mas Cantrik menelan ludah. Ia menjadi salah tingkah. Ia seperti kehilangan kata-kata, karena pesona Nyi Suci menggetarkan jiwa!
Ia juga tidak tahu harus berbuat apa, ketika Nyi Suci duduk di depannya. Tercium olehnya harum nafas Nyi Suci.
…
Mas Redjo
…
Episode 1: https://red-joss.com/harta-tahta-dan-wanita/
Episode 2: https://red-joss.com/harta-tahta-dan-wanita-episode-2-mengatur-siasat/

