| Red-Joss.com | “Bagi orang sombong, pilihan yang paling sulit itu menolak ego sendiri. Tapi bagi orang rendah hati pilihan yang paling mudah itu menuruti kata hati.”
Kedatangan seorang sahabat yang ‘turun gunung’ khusus menjenguk ke penjara membuat hati Mas Cantrik jadi tidak tenang, risau, dan sedih.
Bagaimana tidak sedih. Ia diminta untuk mengalah dan menuruti permintaan Ki Demang, yakni menikahi adik Ki Demang!
“Lebih baik aku mati, Dimas. Aku harus menjaga nama baik Guru dan kehormatanku. Karena aku sungguh tidak melakukan perbuatan itu!”
“Sabar Kangmas Cantrik. Emosi itu melemahkan dan menumpulkan pikirmu,” senyum Dimas melebar, dan tenang.
“Coba direnungkan. Jika posisimu menjadi adik Ki Demang, Nyi Suci. Ia tidak berani menolak kakaknya. Mengapa Ki Demang itu disegani, atau lebih tepatnya ditakuti. Karena perintahnya tidak mau dibantah. Ia segan pada Guru, sebab hutang budi. Jiwanya diselamatkan dari gerombolan perampok. Ia tidak mau memaksamu, sehingga mencari cara untuk menjebakmu. Karena kau mumpuni dan dihormati.”
Mas Cantrik diam, menyimak uraian itu dengan hatinya. Jika ia menjadi Nyi Suci. Permintaaan itu, tepatnya perintah Ki Demang adalah sabda yang harus terjadi dan diikuti. Tidak mungkin Nyi Suci rela permalukan dirinya di depan lelaki yang bukan suaminya.
Ia menjadi iba dan jatuh kasihan pada Nyi Suci.
“Jadi Guru mempercayaiku?”
“Kangmas, Guru mengenalmu melebihi kau mengenali dirimu sendiri.”
Kepercayaan Guru Bijak membuat hatinya jadi lega dan terhibur. Tapi menikah dengan Nyi Suci? Sampai sekarang ia belum memikirkan hal itu.
“Dimas, jika permintaan Ki Demang itu aku turuti, bagaimana dengan nama baik Guru…”
“Guru mengenal dan percaya padamu, Kangmas. Yang penting kau tidak melakukan. Mengalah, tapi kau menyelamatkan nama baik dan menjaga kehormatan Nyi Suci.”
“Jika aku diminta jadi penasihat Ki Demang…?” Mas Cantrik ragu.
“Kau bisa menolak secara halus. Guru memanggilmu pulang. Kau diminta menemani Guru. Banyak alasan bisa kau kemukakan. Hal selanjutnya terserah Kangmas dengan Nyi Suci untuk kompromi, mencari yang terbaik untuk kita semua.”
“Jika Ki Demang menolak atau mengetahui hal ini …”
“Kau terlalu lugu, Kangmas. Selalu ada solusi. Kini tenangkan pikir dan hatimu. Aku mohon pamit. Semoga Sang Hyang Widi melindungimu.”
Tangan kakak beradik seperguruan itu saling menggenggam, dan mempercayai.
“Jaga dirimu, Kangmas.”
“Kau juga, Dimas. Salam dan baktiku untuk Guru.”
Hati Mas Cantrik menjadi lebih tenang dan hatinya tentram.
…
Mas Redjo
…
Episode 1: https://red-joss.com/harta-tahta-dan-wanita/

