| Red-Joss.com | Tidak mungkin Nyi Suci raib tanpa meninggalkan jejak. Tapi di mana Nyi Suci disembunyikan?
Mas Cantrik berpikir keras. Ia makin penasaran. Apa yang mendasari Ki Demang sedemikian benci pada Ki Gento? Ada permusuhan apa di antara mereka?
Jika ia terseret dan dilibatkan itu karena Nyi Suci. Untuk menutupi aib itu ia harus menikahi Nyi Suci, meski terpaksa. Semua itu ia lakukan demi nama baik dan keselamatan Nyi Suci.
Aneh! Tiba-tiba ia rindu pada Nyi Suci. Ia kasihan, Nyi Suci menjadi korban, bahkan dikorbankan oleh kakaknya sendiri!
Sesungguhnya, Mas Cantrik tidak mempunyai persoalan lagi dengan Ki Gento. Karena ternyata, Nyi Suci tidak diculik oleh orang suruhan Ki Gento.
Mas Cantrik lalu meminta izin pada Ki Kunto untuk mencari lelaki kurus yang membuntutinya dan menjadi pengawal Ki Gento. Tapi dicegah Ki Kunto, karena orang itu telah pergi sejak pagi tadi.
“Jadi…?”
“Ia melihat Ki Gento bersih. Bisa jadi ia takut ketahuan penyamarannya, lalu menghilang” jelas Ki Kunto. “Kini terserah Mas Cantrik. Mau menetap di sini atau mengungkap kebenaran itu.”
“Saya harus menuntaskan semua itu, Ki. Saya harus menjaga nama baik dan kehormatan saya. Selain, tentu saja, saya ingin mencari Nyi Suci. Ia harus diselamatkan dari kezaliman Ki Demang.”
“Saya tidak bisa menghalangimu, Mas Cantrik. Hati-hati menghadapi Ki Demang,” pesan Ki Kunto, ketika Mas Cantrik pamit.
“Sampaikan mohon maafku pada Ki Gento, ya, Ki …,” pinta Mas Cantrik. Kini ia harus menemukan Nyi Suci. Berarti ia kembali ke Pademangan lagi, dan masuk ke kandang macan!
Hati Mas Cantrik risau. Ia ingin menyamar, tapi tidak ada gunanya, karena bakal dikenali oleh orang-orang Ki Demang.
Untuk buka praktek pengobatan kembali, hal itu juga tidak mungkin. Ia bisa ditangkap oleh Ki Demang, karena dianggap sebagai mata-mata Ki Gento.
Mas Cantrik menekur. Nyi Suci yang adiknya itu rela dikorbankan demi memuaskan nafsu kebenciannya pada Ki Gento. Apalagi pada orang lain yang tidak disenangi atau yang menentang keinginannya.
Ia sungguh tidak menyangka dan habis pikir. Ki Demang yang halus tutur katanya itu ternyata zalim. Sehingga ia harus ekstra hati-hati dalam menghadapi Ki Demang. Ia tidak mau salah langkah, sehingga rugikan diri sendiri dan berakibat
buruk!
…
Mas Redjo

