| Red-Joss.com | Ki Kunto menghela nafas. Ia lalu menyeruput kopinya.
“Mas Cantrik percaya?!” Ki Kunto balik bertanya.
“Saya sendiri ragu, kecil sekali kemungkinannya. Bahkan menurut saya hal itu tidak mungkin.”
“Ya. Tak ada orang yang percaya!”
“Mengapa Ki Gento diam …?!”
“Karena tidak ada gunanya. Jika ditanggapi hanya akan perkeruh keadaan, dan urusan itu makin panjang.”
“Bukankah diam berarti mengakui, membenarkan.”
“Biarkan orang mempunyai pikiran seperti itu. Tapi kebenaran itu tidak bisa dibohongi, ditutupi.”
Ki Kunto tidak mungkin berbohong. Jika Ki Gento tidak menculik, lalu ada apa dengan Nyi Suci? Ia raib atau disembunyikan? Apa maksud dan tujuan menyembunyikan Nyi Suci?
Mas Cantrik penasaran. Semua jadi mentah kembali.
Mungkin Nyi Suci disembunyikan. Bukankah kamarnya tampak rapi dan belum digunakan, saat Nyi Suci diketahui hilang?
Ia juga telah mencoba menelusuri dan mengumpulkan bukti raibnya Nyi Suci, tapi tidak membawa hasil.
Jika Nyi Suci disembunyikan oleh Ki Demang, karena ia ingin melempar batu sembunyi tangan. Tujuannya agar nama Ki Gento tercemar, malu, dan orang membenci Ki Gento?
Faktanya, ketika ia bertemu dengan Ki Gento, junjungannya itu tampak ramah dan sabar. Ia tidak sungkan untuk mendatangi calon pengawal itu dan menyapa mereka.
Mungkinkah Ki Demang sedang memperalatku untuk menyusup dan memata-matai Ki Gento? Padahal, jika Ki Demang mempunyai bukti, toh ia bisa langsung menyatroni Ki Gento. Ia bisa minta tolong teman-temannya menggeruduk Ki Gento. Sebenarnya ada permusuhan apa antara Ki Demang dan Ki Gento?
“Maaf, Ki Kunto menurutku Ki Demang seperti benci sekali dengan junjungan kita,” kata Mas Cantrik pelan dan hati-hati.
Ki Kunto memandang Mas Cantrik. Ia menghela nafas dan wajahnya menggelap.
“Begitulah. Tapi Ki Gento selalu mengalah.”
Diam merangkak pelan menuju kesunyian.
Mereka beradu pandang.
“Mohon maaf. Jika kata-kata saya kurang berkenan, sehingga melukai Ki Kunto. Lebih baik, kita lupakan. Kita ngobrol yang lain,” Mas Cantrik lalu mengalihkan pembicaraan.
“Cepat atau lambat, kau juga bakal tahu Mas Cantrik…”
…
Mas Redjo

