| Red-Joss.com | “Coba Mas Cantrik berpikir ulang. Mas hanya mengiyakan, lalu semua itu beres, dan selesai.”
“Tapi saya tidak merasa melakukan dan berbuat hal itu. Saya bersih!”
“Buktinya…”
Mas Cantrik terperangah. Gelisah. Ia mencoba mengingat-ingat lagi kejadian semalam. Ia diajak minum, dan dicekoki, hingga mabuk.
Ketika bangun pagi itu, ternyata di sebelahnya ada gadis cantik yang tertidur lelap. Ia merasa dijebak!
Terngiang kembali bujukan Ki Demang yang minta kesediaannya menjadi penasihat Kademangan. Ia dengan tegas menolak, karena sejak dulu ia tidak tertarik hidup di lingkungan kekuasaan. Ia senang tinggal di kampung membantu warga sekitar.
Janjinya pada Guru Bijak itu tidak bakal dilanggarnya. Ia turun gunung untuk mengejawantahkan ilmu dari Guru Bijak, yakni untuk melayani dan mengabdi masyarakat.
Karena ia selalu berhasil, ketika dimintai bantuan oleh warga yang kemalingan, kecurian ternak, atau terkena santet. Sehingga namanya jadi kesohor dan didengar oleh Ki Demang. Ia lalu diminta Ki Demang untuk menjadi penasehatnya. Tapi dengan halus ditolaknya, meski ia diberi banyak hadiah ‘raja brana’. Ketika pemberian Ki Demang tidak mau dikembalikan, harta itu dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kini Ki Demang menuntutnya untuk mengawini adiknya yang menemani tidur. Jika ia menolak bakal diadili, dan dihukum rajam.
Ia kecewa, karena tidak dipercaya. Juga oleh semua sahabatnya. Mungkinkah tidur berduaan tanpa berbuat sesuatu? Bahkan mereka mencap dirinya orang yang paling bodoh se Kademangan.
Padahal menjadi orang terdekat dan kepercayaan Ki Demang itu hidupnya bakal makmur, terjamin, dan miliki pengaruh luar biasa!
Untuk kesekian kali Mas Cantrik menarik nafas panjang. Masgul dan sedih. Ia sungguh tidak menyangka, jika Ki Demang menggunakan segala macam cara untuk merekrut orang dan memperkuat pengaruh maupun kekuasaannya.
Faktanya, siapa yang percaya ia dan adik Ki Demang tidak berbuat apa-apa?
Jika ia bersikeras dan tidak mau menikahi adik Ki Demang berarti ia bakal celaka. Ki Demang pasti membela adiknya. Ki Demang merasa dipermalukan, dan itu aib!
Ia teledor, dan merasa dijebak. Tapi ia bisa berbuat apa? Menyesal juga tiada guna.
Berserah pasrah pada Sang Hyang Widi adalah jalan terbaik agar hatinya jadi tenang. Jika harus menderita demi kebenaran, ia pun siap. Semua itu aksn dijalani demi kehormatan dan harga dirinya.
Semoga Sang Hyang Widi meneguhkan jiwanya. Nyuwun kawelasan.
…
Mas Redjo

