“Orang yang berhutang itu wajib diingatkan. Jika ngotot tidak mau membayar, lebih bijak didoakan agar tidak jadi beban hidup sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Melepas hutang? Ya, dilepas ikhlas hati agar tidak membebani dan memberati hidup ini.
Sederhana, tapi hal itu saya jalani. Saya sekadar mengingatkan para pelanggan yang berhutang itu. Saya juga menghindari konflik, jika pelanggan itu mengulur-ulur waktu, berpanjang lebar argumen untuk pembenaran diri, atau mengajak ribut.
Jika hutang pelanggan tidak ditagih itu bukan berarti saya banyak uang. Melainkan saya tidak mau energi ini terkuras, membuang-buang waktu, dan rugi biaya mendatanginya untuk menagih.
Bagi saya yang penting itu adalah kepastian dan niatnya membayar. Tidak sekadar mengobral janji dan emosi. Tapi datang dari kesadaran diri, karena mempunyai kewajiban yang harus dilunasi.
Saya juga tidak mau menggunakan aparat untuk menagih, mengambil barang di rumahnya senilai dengan hutangnya, dan seterusnya.
Pelanggan itu mempunyai niat dan kesanggupan untuk mencicil atau tidak. Jika pelanggan itu pailit atau tidak mampu, hutang itu langsung dianggap lunas dan saya ikhlaskan.
Lebih daripada itu, pelanggan yang mempersulit itu saya doakan agar dia tidak menuai dari perbuatannya sendiri.
Saya juga mohon ampun kepada Tuhan, karena mengecewakan-Nya, sebab kurang berhasil mengelola titipan-Nya.
Saya ikhlas hati, karena terinspirasi firman Tuhan dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25: 14-27) agar yang dikaruniakan-Nya untuk dikelola bijak dan bermanfaat bagi sesama. Sedang bagi yang menyia-nyiakannya, semuanya diambil oleh-Nya.
Bagi mereka yang tidak mempunyai niat membayar, ibarat saya berbagi pada mereka, dan ikhlas agar tidak membebani pikiran ini. Sehingga hidup saya tetap nyaman, tentram, dan damai.
Sejatinya, ketika hidup ini dijalani dengan ikhlas hati, kita dianugerah Tuhan berkelimpahan. Rezeki-Nya mengalir tiada henti.
…
Mas Redjo

