Harmoni keluarga memang terbentuk dari kasih sayang mendalam dan penerimaan tulus terhadap ketidaksempurnaan setiap anggota keluarga. Saling mengasihi menciptakan rasa aman dan dihargai. Sementara menerima ketidaksempurnaan secara tulus akan membangun kebersamaan, saling mendukung, dan komunikasi yang terbuka, sehingga menciptakan suasana rumah yang damai dan bahagia.
Harmoni itu makin saya rasakan sejak semuanya berubah dalam diriku: “ketika pendengaranku makin berkurang, mataku tidak lagi cemerlang, langkahku mulai goyah, tampilku tidak lagi tegap, bicaraku terkadang gagap. Tidak ada yang berubah, karena saya tetap diterima utuh seperti dulu.”
Mengingatkanku pada Sabda Guru (Mat 25: 35) yang menuntun kami sejak keluarga ini dibangun: “ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.”
Harmoni rohani yang kami yakini dan jalani sejak awal melangkah jadi penuntun abadi kehidupan kami menuju harmoni sempurna kelak.
Salam sehat.
Jlitheng

