Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketahuilah, bahwa semua itu hanyalah barang titipan.”
(WS. Rendra)
…
Saya teringat dengan penggalan-penggalan puisi dari sang burung merak, WS Rendra.
Sastrawan nyentrik ini dalam refleksinya, telah menemukan sebuah jawaban final, bahwa semua harta yang selama ini serasa milik pribadi itu, sejatinya hanya barang titipan.
“Semua itu
hanyalah barang titipan
Kau
merasa memiliki
anak dan keturunan
Kau pun
merasa bahwa
harta dan pangkat
adalah milikmu
Namun,
sesungguhnya semua itu
hanyalah barang titipan
Dan
di saat Dia memintanya kembali
Mengapa
kau menganggap
itu adalah sebuah musibah?”
(Tafsiran bebas)
โHanya Titipan,โ adalah sebuah tulisan refleksi yang bertujuan mengajak kita manusia untuk menyadari, bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta apa pun di bumi ini.
Namun fakta historis juga sosial telah membuktikan, ternyata kita manusia telah salah paham.
Manusia justru merasa, bahwa dialah sang pemilik tunggal atas semua harta benda.
Karakter sebagai makhluk yang suka gila hormat juga terungkap di dalam adagium, โhomo homini lupusโ, manusia telah menjadi serigala bagi sesama.
Adagium ini mau membuktikan, bahwa sungguh manusia itu adalah makhluk yang suka memonopoli atas sesamanya. Termasuk hal kepemilikan. Dia bahkan mengklaim, bahwa semua harta adalah miliknya semata.
Padahal sejatinya, semua itu, hanya barang titipan dari Sang Penguasa Kehidupan ini.
Bahkan dia pun sangat berani mengutuki realitas atas sebuah kehilangan.
Kehilangan harta milik, baginya adalah sebuah musibah. Padahal, bukankah semuanya itu, sejatinya hanya sebuah titipan?
Sang kebijaksaan telah mengajarkan, bahwa jika Anda ingin bahagia, maka lepaskan sekeping koin karat di dalam genggaman tanganmu.
Mari kita hidup sebagai manusia yang berani bersikap lepas bebas!
…
Wolotopo / Ende,ย 1ย Juniย 2024

