Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika istri Albert Einstein menyuruh sang ilmuwan untuk berganti pakaian sebelum
bertemu dengan Duta Besar Jerman,
Einstein berkata, “Jika mereka
ingin menemuiku, aku
ada di sini. Jika mereka
ingin bertemu dengan
pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka.”
(Albert Einstein)
Manusia dan Budayanya
Jika manusia sebagai makhluk berbudaya yang memiliki sikap untuk bersopan santun dalam hal berbusana secara tepat dan benar sesuai sikon, tentu patutlah kita acungkan jempol dan menjunjung tinggi sikap serta pandangan itu. Karena bukankah berpakaian dengan pantas itu menunjukkan salah satu sikap hormat kita kepada sesama?
Namun, ketika masyarakat kita akhirnya mulai terjebak dalam suatu pandangan euforia, bahwa kita harus berpakaian serba mewah demi menghormati dan agar dihormati, maka sesungguhnya, kita telah terjebak dalam tradisi adu gengsi semata. Artinya aspek pakaian, justru telah jadi alat ukur formal dalam budaya kita.
Tulisan berlatar belakang budaya ini saya turunkan, berdasarkan refleksi saya atas kisah berikut ini.
Mantel Mewah
Tatkala Mullah Nasrudin menghadiri sebuah pesta perjamuan dengan berpakaian usang dan kusam, ternyata tidak seorang pun yang mau menyapanya. Bahkan Tuan pesta tidak mengacuhkan kehadirannya.
Segera ia pulang ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Lalu ia kembali dengan mengenakan mantel mewah layaknya seorang pembesar. Kini, setiap orang mulai mengerumuninya dan mengajaknya berbincang-bincang. Kini, dalam sekejap gengsinya melonjak dari seonggok sampah busuk berubah jadi segepok permata.
Tuan hajatan itu mempersilakan beliau untuk duduk di kepala meja hidangan. Setelah mengambil hidangan, ia segera menyuapi mantel mewahnya. “Silakan makan, wahai mantel mewahku, karena kamu adalah tamu kehormatan di pesta ini dan bukan aku,” ujarnya.
(Hamdan Hamedan)
Berguru pada Saru
Antara yang Utama dan yang Sampingan
Sungguh, betapa agungnya sosok yang memiliki sikap dewasa dan berkepribadian mulia. Karena ia akan bertindak dan bersikap sesuai suara hatinya serta tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh oleh pihak luar.
Di sisi lain, betapa banyaknya warga masyarakat kita yang akhirnya jatuh, karena terjebak oleh budaya gengsi. Ia pun mudah diombang-ambingkan oleh pengaruh dari luar. Biasanya orang-orang yang demikian akan jadi korban yang paling empuk sebagai kelinci percobaan.
Itulah sebabnya, mengapa hidup kita justru jadi kian rumit? Bukankah hal ini terjadi sebagai dampak dari sikap rapuh kita? Karena kita mudah terprovokasi dengan mengagungkan sesuatu yang sebenarnya hanyalah bungkusan kulit luar.
Dari alur berpikir secara murahan ini, maka lahirlah sebuah generasi yang mengagungkan budaya euforia dan hura-hura. Mereka sangat getol untuk mengukur segala sesuatu itu hanya berdasarkan tampilan luar.
Konklusi
Berdasarkan latar belakang refleksi ini, kita dapat memetik sebuah amanat agung, bahwa yang paling utama dalam hidup ini adalah isi dan kualitas, bukan jumlah atau hiasan luarnya.”
(Non multa, sed multus)
…
Kediri, 21 April 2025

