“Tuhan, ajarilah kami hidup sebagai hamba-Mu yang setia, percaya penuh akan kasih-Mu, dan setia mengembangkan setiap rahmat yang Engkau percayakan.”
Sabda Tuhan mengingatkan kami, bahwa kesetiaan bukanlah sikap menunggu secara pasif, melainkan tindakan kasih yang berani, dan iman yang penuh harapan.
Lewat perumpamaan di Injil, Yesus menegur mereka yang mengira Kerajaan Allah akan segera tampak. Koin emas itu melambangkan segala anugerah yang Tuhan taburkan dalam hidup kami: hidup, iman, kekuatan, kesempatan, dan setiap rahmat yang kami miliki. Tidak ada satu pun yang Tuhan berikan untuk disembunyikan; sebab benih rahmat itu tumbuh, hanya ketika dipakai, dibagikan, dan dilatih.
Pemazmur menampilkan hati yang tetap teguh di jalan Tuhan, hati yang berseru dan percaya, bahwa Dia mendengarkan. Hamba setia itu bukan yang takut kehilangan, melainkan yang percaya sepenuh hati pada kasih-Nya. Kepercayaan itulah yang membebaskan kami untuk bertindak berani: melayani, memberi, dan mempertaruhkan diri bagi Kerajaan-Nya.
Dalam 2 Makabe, kami melihat keberanian sang Ibu dan ketujuh anaknya, yang menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Keberanian mereka lahir bukan dari yang bisa mereka pertahankan, melainkan dari iman akan Tuhan yang setia menepati janji. Iman mereka menegaskan, bahwa apa pun yang kami serahkan kepada-Nya tidak pernah sia-sia.
Bapa, dua hamba pertama dalam Injil berhasil menggandakan koin mereka karena mereka memahami hati-Mu, bahwa Engkau adalah kasih, dan kasih itu selalu melimpahkan diri. Setiap rahmat yang kami bagikan akan Engkau gandakan dengan kemurahan-Mu. Tapi, ketika kami menyimpannya karena takut, rahmat itu justru mengecil dan kehilangan daya yang seharusnya bertumbuh.
Engkau telah memberikan kepada kami ‘koin emas’ berupa iman, harapan, dan kasih pada saat Baptisan. Ini bukan persediaan cadangan darurat untuk masa sulit, tapi rahmat harian yang membentuk jati diri kami sebagai anak-anak-Mu, para ahli waris Kerajaan Surga. Ketika kami menggunakannya, mereka berkembang. Ketika kami mengabaikannya, mereka memudar.
Ampunilah kami, ya, Bapa, untuk saat-saat, ketika ketakutan membuat kami mengubur karunia-Mu. Ketika kami mempercayai bisikan si jahat lebih daripada sabda-Mu. Ketika kami meragukan kasih-Mu, karena kami sukar untuk setia.
Berilah kami keberanian para hamba yang setia. Jadikan kami berani mengasihi. Mampukan kami membagikan waktu, talenta, kepedulian, dan kesaksian kami, karena kami percaya, bahwa rahmat-Mu selalu berlipat ganda saat dibagikan.
Semoga, ketika Tuhan datang, kami ditemukan setia, beriman, bersukacita, dan berbuah. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

