Doa yang dimulai hari Jumat hingga Jumat dua kali minggu ke depan. Selama 15 hari berturut-turut dan menggunakan 1 lilin untuk dinyalakan hingga habis.
Doa itu saya pilih karena kesulitan saya dijawabNya. Doakan apa yang kita kerjakan, dan kerjakan apa yang kita doakan. Saya berserah pasrah.
Oleh sahabat, saya dibawa ke ruko yang hendak dijual, lalu saya ditemukan oleh mertuanya yang seorang haji.
Dalam pembicaraan itu saya salah ngomong. Saya bertanya, apakah mungkin Pak Haji menjual ketiga rukonya, tapi dihutang dan diangsur? Alasan saya, ruko itu miliki satu atap yang dipisahkan oleh sekat. Jika dibangun mengganggu ruko yang lain, bocor kalau hujan, dan seterusnya.
Salah ngomong itu membuat saya sungguh menyesal, karena tak tahu diri. Tidak punya uang, tapi sok dan sombong.
Malamnya saya berdoa kepada Allah agar Pak Haji tidak menanggapi permintaan saya. Dan membatalkannya.
Anehnya, tiga hari kemudian Pak Haji menelpon saya untuk sowan ke rumah. Seketika itu saya pucat pasi, jantung berdenyut lebih kencang, dan keringat dingin mengucur deras.
Saya terus menerus berdoa agar Allah membatalkan transaksi saya dengan Pak Haji. Saya baru merintis usaha dan tidak memiliki banyak uang!
Sore hari, ketika bertemu dengan Pak Haji dan istrinya, saya kehilangan semangat. Saya menawar jauh dari harga pasaran sambil meminta ‘maaf’ atas kelancangan saya.
Di rumah, istri juga memarahi, ketika saya menceritakan transaksi bisnis ruko dengan Pak Haji.
“Saya salah dan minta maaf, tapi jangan dipojokkan. Lebih baik kita berdoa agar transaksi gagal,” kata saya mengalah.
Ternyata, rencana Allah berbeda dengan rencana kita. IA memberi yang menurut kita tidak masuk di akal! Bahkan, maaf, jika IA memberi kita tidak mampu menolakNya! IA bertanggung jawab dan tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu.
Kamis, 22 Desember 2006, Pak Haji minta saya untuk datang ke rumahnya lagi. Harga disepakati. Tidak ribet dan berbelit-belit, beliau minta saya mentransfer sejumlah uang, lalu Jumat malam saya diminta untuk menyerahkan bukti transferan itu.
Tanpa surat perjanjian di atas materai, atau lewat kredit bank, Pak Haji memberikan sertifikat rumahnya sebagai jaminan, hingga proses surat AJB selesai. Kekurangan pembayaran bisa diangsur selama 18 bulan.
Saya pulang dari rumah Pak Haji dengan kebahagiaan yang luar biasa bagai mimpi. Saya lalu ingat ajaran Yesus yang mengacu pada anak kecil pada Injil Matius 18: 3-5. Ketika kita bergantung dan mengandalkan Allah, semua tidak ada yang mustahil.
Berkah Dalem
Ciledug, 24 Oktober 2021.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

