RedJoss.com – Apa yang harus kita lakukan, ketika kita dikhianati oleh orang terdekat? Marah, benci, dendam, atau …?
Marah, itu pasti. Sakit hati, itu juga pasti. Mendendam? Jangan! Apa jadinya, jika kita membenci dan mendendam pada orang yang menyakiti kita? Tak ada bedanya kita dengan mereka.
Saya bersyukur, karena teringat firman Tuhan di kayu salib agar kita mendoakan dan mengampuni orang yang menyakiti kita, sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuat.
Jujur, dikhianati sopir kepercayaan itu sungguh menyakitkan. Apalagi pelanggan saya dijual kepada pabrik plastik hingga omset anjlog 50%, membuat saya terpukul.
Kasih Allah sungguh menopang jiwa saya agar saya segera melupakan kenyataan itu. Untuk berserah pasrah kepadaNya, karena “Allah yang memberi, IA pula yang mengambil.”
Perlahan, rasa sakit ini berangsur-angsur sirna. Keikhlasan untuk menerima realita itu membuat saya tegar untuk bangkit dan berjuang kembali.
Tiga bulan kemudian, sejak sopir ke luar kerja, Mei 2006, terjadi gempa bumi di Jogjakarta. Ada kabar yang memprihatinkan datang dari teman, bahwa rumah sopir, kakak, dan orangtuanya terdampak gempa; rusak parah.
Apakah saya gembira? Tidak! Hanya pembenci yang gembira melihat penderitaan orang lain!
Saya juga tidak mau mengkaitkan musibah itu sebagai karma untuk sopir. Karena, jauh di lubuk hati saya sangat sedih, sebab gempa itu merenggut banyak korban jiwa.
Selain itu, dikhianati oleh sopir tidak membuat saya patah arang. Saya mengambil sisi positif untuk belajar lebih berhati-hati terhadap karyawan, sekaligus saya semakin termotivasi mewujudkan impian: punya ruko sendiri! Alasannya, tiap tahun sewa ruko naik. Ketimbang sewa, lebih baik membeli.
Hal itu yang membuat saya semangat dan terpacu untuk bekerja lebih keras.
Hidup untuk menjawab tantangan, itulah semangat yang mendasari keoptimistisan saya untuk sukses berwirausaha.
Tantangan yang melahirkan target demi target. Saya terus menaikkan target pengambilan pelanggan agar setiap bulannya meningkat. Hingga akhirnya oleh seorang sahabat, saya ditawari sebuah ruko milik mertuanya.
Doa saya dikabulkan?
Hati saya berdebar keras. Terbayang wajah Yesus yang setiap malam saya daraskan dalam doa “Kepada Hati Kudus Menghadapi Kesulitan.”

