“Menjadi orangtua itu berat, Ngger. Meski begitu, carilah rezeki yang halal agar tidak membuat celaka diri sendiri dan keluarga.”
…
| Red-Joss.com | Nasihat itu selalu diingatkan Bapak agar kami, keempat anaknya hidup jujur dan benar dalam keseharian. Terutama dalam bekerja agar kita tidak silau dengan uang, sehingga berbuat curang. Tapi mencari rezeki secara jujur dan halal itu berkat dan nikmat.
Bapak memberi contoh dengan hal yang realitis dan gamblang, tanpa menyebut pribadi orang.
Misal, kita diberi uang kaget yang nilainya besar oleh pimpinan, kita harus berani bertanya alasannya memberi dan sumber uang itu. Kita tidak asal terima, meskipun sedang membutuhkan.
Bertanya bukan berarti tak percaya, melainkan sikap hati-hati agar tidak timbul masalah di kemudian hari. Kita tidak ingin pemberian uang itu sebagai ongkos tutup mulut dari hasil korupsi, misalnya.
Berbeda halnya, jika pimpinan itu si empunya usaha dan diberikan saat gajian. Dalam slip gaji juga ditulis: bonus. Sehingga yang menerima bonus itu jadi senang dan tenang. Bisa jadi, karena pelanggan puas dengan pekerjaan dan pelayanan kita, sehingga diapresiasi pimpinan.
Sesungguhnya, ketika kita mencari rezeki dengan berbuat curang dan culas berarti kita menggali kubur sendiri. Selain mencelakakan diri sendiri, juga membuat keluarga jadi menderita. Karena yang kita tanam itu bakal dipanen, dan rezeki yang diperoleh itu tidak berkah.
Sesungguhnya rezeki itu datang, jika kita mau membuka hati untuk bergerak rajin bekerja dan tanpa pilih-pilih, asal yang penting halal.
Saya jadi ingat, ketika mengikuti seminar “Sukses Berbisnis” di Puncak. Oleh narasumber, kita disuruh mencari uang Rp 20.000,- Jika gagal berarti tidak diizinkan makan siang alias kelaparan! Sedang hp dan dompet peserta harus ditinggal di ruangan seminar!
Sekitar 50an peserta seminar itu lalu diminta jual kemampuan. Dengan pakaian rapi, ada di antara mereka jadi pengamen dadakan, membantu cuci piring di warung, mengupas bumbu di pasar, dan sebagainya.
Dari seminar itu, tidak hanya mental ditempa, tapi saya dituntut kreatif dan inovatif, jika ingin sukses ‘jualan barang’.
Sesungguhnya, kita dianugerahi talenta dan bakat yang luar biasa oleh Allah, tapi apakah kita mau mengelolanya dengan baik dan bijaksana?
…
Mas Redjo

