“Batu permata yang digosok itu makin berkilau dan harganya mahal, tapi gosip yang digosok itu datang dari si Jahat.” -Mas Redjo
…
Memilih diam untuk mendengarkan, karena saya tidak mau menanggapi atau terbawa emosi, tapi mencerna gosip itu dengan hati.
Berefleksi itu jalan kebijaksanaan agar kita rendah hati, meski sumber berita itu berasal dari Bos besar, orang berpengaruh, atau pejabat.
Ricek dan kroscek itu baik untuk melihat fakta lebih jernih dan jelas. Ketimbang membesar-besarkan masalah untuk menyalakan api dan membakar, lebih bijak mengecilkan, dan meniadakan masalah itu lewat jalan damai dan berbesar hati.
Saya tidak bermasud untuk kroscek ke biang gosip, atau merunutnya dari orang satu ke yang lain. Saya memilih untuk mengalah dengan mendatangi orang yang dimaksud. Tidak untuk mencari yang benar atau salah. Tapi saya ingin masalah itu cepat beres dan selesai.
Saya malu-semalunya, jika urusan yang kecil itu terus melebar dan membesar. Lebih konyol lagi, lalu muncul masalah baru dan melibatkan orang lain. Sehingga masalah jadi berendeng dan makin memanjang tidak kunjung usai.
Berbeda hasilnya, ketika saya yang digosipkan sedang slek dengan A itu lalu mendatanginya untuk bicara baik-baik. Untuk meredam agar kesalahpahaman itu tidak makin panjang, saya berbesar hati untuk meminta maaf padanya.
Jujur, berani untuk meminta maaf itu tidak membuat saya mengotori diri sendiri, turun derajat, dan aib. Sebaliknya dengan berbesar hati, saya menunjukkan kualitas kepribadian sejati.
Jangan menggosok gosip untuk menceraiberaikan, tapi milikilah jiwa yang besar untuk menyatukan dan mengayomi!
…
Mas Redjo

