| Red-Joss.com | Dalam konteks hidup rohani, gizi rohani (umat, jemaat) diperoleh dari Firman Tuhan yang disajikan. Firman itu (jika bisa diumpamakan) ibarat makanan yang gizinya akan berkurang atau bahkan hilang jika salah mengolah dan menyajikan. Penyajian itu bisa terjadi di lingkungan dalam bentuk renungan, homili, atau khotbah di dalam ibadat resmi seperti Ekaristi.
Pada prinsipnya hanya ada 3 jenisnya, yaitu: Topikal, Tekstual dan Ekspositori.
Disebut topikal, karena dibangun dengan topik tertentu, mis bertobat. Disebut tekstual, karena berangkat dari satu teks tertentu. Sedangkan ekspositori yang diberitakan bukan ide pengkhotbah atau pembawa renungan, akan tetapi murni penguraian dari teks yang dibacakan. Tujuannya untuk menolong umat atau jemaat agar mudah mengerti maksud dan tujuan Firman Tuhan.
Seperti halnya kebutuhan fisik, agar tidak terjadi stunting rohani, maka keseimbangan asupan rohani harus diperhatikan.
Matius 4: 4: Mengajarkan pada kita untuk memenuhi bukan hanya kebutuhan jasmani kita, tetapi juga memuaskan kebutuhan jiwa kita. “L’uomo non vive di pan solo, ma d’ogni parola che procede dalla bocca di Dio.“
Firman itu menyatakan, bahwa manusia hidup bukan hanya dari makanan jasmani saja, tetapi dari setiap Firman yang diucapkan Tuhan.
Dengan demikian nutrisi seimbang dalam kehidupan kita bukan hanya mencakup makan sehat dan olahraga untuk kesehatan dan kekuatan tubuh jasmani kita. Tapi yang paling penting adalah nutrisi Firman Tuhan yang memuaskan kebutuhan jiwa kita.
Intinya: Membangun relasi dengan Tuhan yang menguatkan jiwa dan memberi kita kekuatan untuk menghadapi tantangan dan rintangan yang datang silih berganti di dalam setiap musim kehidupan kita.
Nutrisi itu kini disajikan oleh siapa saja, dalam sajian ala resto cepat saji, yang menonjolkan sedap baunya, mewah tampilannya dan menarik sajiannya, via seminar, webinar dengan pembicara tenar viral, juga dengan ziarah suci kelas dunia, yang mengakibatkan sajian asli lewat mimbar (altar, temu lingkungan) jadi menukik daya tariknya, karena disajikan dengan cara-cara yang anyep dan rasanya ’sepo’.
Beruntung, bahwa Roh Illahi tetap menjaga kita dengan cara-Nya sendiri sehingga kita terhindar dari ‘stunting rohani’.
…
Jlitheng

