Oleh : Jlitheng
[Red-Joss.com] Sepekan yang lalu, setelah sekian lama tidak kembali terdengar kata ‘gething’ yang artinya benci. Dalam banyak hal (ndilalah), yang tidak disukai justru yang dimiliki. Maka ada idiom ‘gething nyanding’.
Idiom ini dikenal di kalangan Jawa untuk menggambarkan sesuatu yang dibenci namun satu saat justru bersama.
“Berencana Boleh, tapi Tuhan Yang Putuskan”
Saat kuliah, tidak tersirat di benak saya, bahwa satu saat nanti akan bekerja di kota yang bernama Jakarta. Tidak ada sama sekali. Namun 12 tahun berselang, saya kos di sebuah rumah di daerah Cideng, Tanah Abang dan bekerja di sebuah bank yang berkantor di Harmoni.
Setelah pindah dari situ, tak terbersit di pikiran saya untuk bekal bekerja di perusahaan telekomunikasi. Eh, ternyata hingga 13 tahun lamanya saya bertahan di dunia telekomunikasi hingga pensiun.
Setelah pensiun, saya ingin bekerja yang diatur oleh diri sendiri, tetapi kenyataannya berbicara lain. Saya bekerja lagi di salah satu universitas swasta terkemuka di daerah Serpong, sampai hari ini, juga sudah 13 tahun.
Pengalaman di atas, meski tidak mewakili penerjemahan leterlek ‘kemakan omongan sendiri’ atau ‘gething nyandhing’ -nya orang Jawa, cukup dijadikan contoh, bahwa manusia bisa berencana dan berusaha sekeras apa pun untuk mewujudkan rencananya. Namun semuanya akan terpulang kepada kehendak Allah Yang Maha Kuasa, baik yang selaras maupun yang tidak.
Pengalaman itu bisa jadi upaya untuk membuka mata batin.
Menghadapi 3 kenyataan hidup di atas, tidak ada kata selain menjalaninya. Bahwa kenyataan itu tidak selalu bersesuaian dengan keinginan, itu adalah sebuah keniscayaan. Sebuah hukum alam yang pasti. Karena rencana terletak pada makhluk dan keputusan ada di tangan Sang Khaliq. Mengetahui rencana Tuhan pun adalah sebuah kemustahilan, meskipun IA berbaik hati untuk memberikan ‘bocoran’ tentang ketetapan-Nya.
Berbaik sangka adalah sebuah cara untuk menikmati kenyataan. Berat memang, apalagi jika berkenaan dengan hal yang tak berkenan di hati. Bisa jadi kita ok-ok saja dengan pekerjaan atau pelayanan misalnya, tapi punya atasan atau pimpinan yang tidak membuat nyaman bekerja adalah sebuah kondisi yang tetap tak diinginkan.
Sebagai panderek Dalem, ada kehendak kusus ingin kita jalani. “Jika mungkin biarlah piala ini lalu dari padaku. Tapi kehendak-Mu yang harus terjadi.”
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng

