Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dalamnya samudra dapat kita duga, namun dalamnya hati, siapa yang tahu.”
(Peri Bahasa)
…
| Red-Joss.com | Sang manusia adalah makhluk yang memiliki hati nurani. Dialah, satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang dihadiahi dengan sekeping hati di dalam tubuhnya.
Hati, sebagai pusat kesadaran seorang manusia. Bagaimana jadinya hidup ini, jika seorang anak manusia diciptakan tanpa memiliki sekeping hati? Maka, manusia itu tentu tidak berperasaan.
Kita, mungkin juga mengenal istilah “telepati,” yang bermakna, orang mampu membaca perasaan dari jarak sangat jauh. Semisal, seorang di perantauan, setelah berpuluh tahun tidak kembali ke tempat asalnya. Di suatu saat, hatinya bergetar, ia seolah mendengar suara panggilan Ibunya. Dia pun menyimpulkan, bahwa di saat itu, sang Ibu mungkin sedang merindukannya.
Selain istilah telepati, kita juga mengenal istilah serupa seperti simpati, simpatik, empati, serta antipati. Semua istilah ini berlandaskan kata hati.
Gentaran hati adalah getaran yang dirasakan setelah orang mendengar atau melihat, atau pun mengalami suatu peristiwa.
Tidak jarang, kita pun mendengar atau menyaksikan, ada orang mengucurkan air mata haru atau bahagia di saat mendapatkan pujian atau menerima suatu hadiah. Di saat dia mendengarkan alunan syahdu lagu Ave Maria, misalnya. Atau juga saat dia menyaksikan kaki langit memerah disapu gemawan berarak pergi.
Hati, ya sekeping hati. Antara hatiku dan hatimu dan hati kita adalah khasanah terindah, laksana deru roh hidup kita manusia.
Bersyukurlah senantiasa, jika ternyata, hati ini masih bergetar merindu, atau tersentuh oleh ucapan atau pun tindakan mulia seorang manusia.
Jadi, denyut getaran perasaan rindu, sedih, sayang, atau gunda gulana adalah ekspresi dari afeksi hati kita yang mau mengisyaratkan, bahwa kita ternyata sungguh sebagai seorang manusia sejati.
Butiran tetesan air mata berderai, getaran dan eratnya jemari terangkai adalah isyarat dari ledakan emosi keluhuran sebuah hati.
…
Kediri, 28 Desember 2023

