Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tujuan pemusnahan buku adalah penghapusan warisan dan gagasan suatu kebudayaan secara keseluruhan.”
Fernando Baez
…
| Red-Joss.com | Mungkin selama ini, kita berpendapat, bahwa proses genosida hanya berlaku untuk pemusnahan umat manusia. Ternyata proses itu juga terjadi dalam bidang budaya (kultur).
Justru proses genosida dalam bidang budaya itu lebih mendasar dan mengakar.
Mengapa? Bukankah kebudayaan itu adalah hasil ciptaan manusia?
Manusia satu-satunya sang ciptaan yang berbudaya. Dia, ‘actor intellectual’ dari bidang kebudayaan.
Dari sekeping hati yang berseni, otak yang encer, dan tangan-tangan terampil manusia yang berdaya cipta tinggi serta kreatif itu lahir sebuah kebudayaan.
Dan dari buku, sebagai sarana dan sumber literatur (tertulis), lahir budaya berbahasa. Bukankah aspek bahasa dan sastra sebagai sarana atau alat utama dari sebuah kebudayaan?
Tulisan bernada keluhan ini terdorong oleh sebuah tulisan dari harian Kompas, Senin (15/4/2024), kolom Internasional berjudul, “Penghancuran Buku di Gaza.”
Jauh dari perhatian orang banyak, sedikitnya 13 perpustakaan di Gaza hancur akibat serangan Israel. Di antaranya adalah Perpustakaan Masjid Agung Omari, Perpustakaan kota Gaza, dan Pusat Kebudayaan El Shawa.
Buku-buku bersejarah musnah bersama para pustakawan dan pengarsip yang menjaganya.
“Pemerintah Palestina di Gaza menyebut pesawat tempur Israel sengaja menarget pusat-pusat kebudayaan, bangunan bersejarah, sekolah, dan universitas untuk menghapus ingatan serta ikatan Bangsa Palestina. Israel dituding melakukan kejahatan perang dan genosida budaya.”
Esensi dasar dari sararan Israel adalah menghapuskan warisan dan gagasan suatu kebudayaan secara keseluruhan.
Ternyata cara keji dan biadab ini, telah dilakukan sejak masa Sumeria Kuno, 4.000 tahun sebelum Masehi.
Secara historis tindakan serupa ini pernah dilakukan Nazi pada 10 Mei 1933. Yang terjadi pada masa itu adalah mahasiswa dari sejumlah kampus di Jerman membakar 25.000 buku yang dianggap tidak sesuai paham Nazi.
Sebuah ironi besar bagi dunia, karena Israel adalah korban anti-semit dan Holocaust, kini justru berbalik menjadi pemangsa Palestina. Palestina menjadi korban dari korban.
Mari cermatilah dengan saksama isi hati sang Penyair Gaza, “Mosab Abu Toha,”
“Kemerdekaan ada di dalam pikiran. Buku membuat Anda bisa membebaskan diri dari hidup di dunia imajinasi yang tidak ada batasnya. Saya memilih merdeka lewat tulisan dan perkataan.”
“Jika aku mati / engkau harus tetap hidup / untuk menceritakan kisahku,” demikian pesan paling akhir dari Refaat Alareer, penyair Palestina yang wafat pada 6/12/2023 dalam serangan Israel
“Sesungguhnya kata-kata agung tak pernah akan mati terbunuh. Ia, bahkan akan terus hidup di dalam memori sunyi sang manusia dari waktu ke waktu!
“Aku mau hidup 1.000 tahun lagi”
(Chairil Anwar)
Sesungguhnya kata dan suara kemanusiaan itu tidak pernah akan mati.
“Lihatlah layang-layang yang engkau buat, terbang tinggi di langit / berharap ada malaikat di atas sana / saat pulang nanti menyemai kasih!
(Refaat Alareer)
…
Kediri, 24 April 2024

