“Gengsi itu makanan berkolesterol tinggi yang harus dijauhi agar kita tidak sakit dan stroke.” -Mas Redjo
Saya sungguh bersyukur, karena tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang sederhana, meski sejatinya mereka cukup kaya.
Dari tampilan rumah bagian luar dan hidup keseharian, mereka itu sederhana. Tapi, ketika kita masuk ke dalam rumah, kita dibuat takjub dengan perabotan rumah tangga yang luks dan komplet.
Potret keseharian hidup teman yang keturunan Tionghoa itu terpatri di hati saya untuk tidak pamer atau menepuk dada, meskipun kaya. Lebih bijak hidup sederhana, dan orang lain tidak perlu tahu jatidiri kita.
Pengalaman hidup sederhana itu juga saya terapkan pada anak agar tidak mengedepankan gengsi dan pamer, tapi rendah hati.
Saya sadar sesadarnya, gengsi itu sumbernya dari ego agar dianggap hebat dan wow, meski kita harus mengada-ada, bahkan berhutang. Padahal di dalamnya keropos dan karatan, sehingga mudah rusak dan roboh.
Jikapun saya berhutang ke bank itu tidak untuk menuruti nafsu demi gengsi, tapi untuk pengembangan usaha, investasi, dan mendukung produktivitas kerja. Semua didasari dengan perhitungan yang matang agar saya tidak kejeblos ke dalam penyesalan, karena gagal bayar sehingga dililit hutang.
Begitu pula dengan keadaan saat ini, ketika dunia perbankan merayu manis nasabah dengan berbagai kemudahan dan bonus.
Dulu saya getol berhutang, karena melihat jelas prospek perekonomian yang berkembang maju itu harus dimanfaatkan sebaik-naiknya.
Kini, perekonomian dunia sedang menurun drastis dan krisis pembeli. Ketimbang berhutang demi ambisi dan gengsi, lebih baik menahan diri dari aneka keinginan dan bersabar agar selamat melewati resesi.
Ketika ditanya, mengapa menolak berhutang?
“Maaf, saya sudah mundur dari dunia bisnis. Saya makan numpang sama anak.”
Jadi maklum, saya tidak makan gengsi yang berkolesterol tinggi!
Mas Redjo

