RedJoss.com – Jangan bilang gengsi itu mahal, ketika kita mampu mewujudkannya. Yang mahal itu sejatinya perjuangan kita agar hidup terhormat.
Gengsi itu tidak lebih dari sekadar basa-basi. Gebyar tampilannya, tapi kosong tiada berisi.
Apapun yang kosong melompong itu tidak ada gunanya untuk disombongkan, karena bakal mempermalukan diri sendiri.
Coba kita pukul tong yang kosong itu, lalu bandingkan dengan bunyi tong yang berisi.
Ketika kita memilih bunyi tong yang kosong berarti orang bakal melihat dan mengetahui, kita tak lebih seorang pembohong, penjilat, bahkan (maaf) munafik. Gengsi sering kali membuat kita lupa diri, berasa hebat, wah, dan ben diarani.
Berbeda dengan tong yang berisi saat dipukul. Ibarat memiliki ilmu padi, semakin merunduk semakin berisi. Orang yang rendah hati itu tak ingin tampil menonjol agar diakui. Ia tidak butuh pengakuan diri, karena sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Ketika orang beranggapan, gaya hidup alias gengsi itu mahal, hal itu perlu dipertanyakan kembali.
Apakah orang yang hidup berpura-pura alias berkamuflase agar tampak hebat itu lebih terhormat dari orang tampil wajar alami?
Yang lebih mahal, bahkan teramat sulit itu orang yang berani berjuang untuk hidup jujur dan benar dengan segala konsekuensinya.
Ia berani setia dan berkomitmen untuk menolak kemewahan yang ditawarkan dunia. Ia tidak mengangkasa, ketika dipuji. Bahkan, ia tidak berasa diinjak saat didholimi, karena hidupnya membumi dan rendah hati.
Orang yang hidup jujur dan benar itu selalu dijagai dan dilindungi oleh kemahabaikan Tuhan. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

