Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Servis yang baik hanya dapat diberikan oleh pekerjaan yang baik, yang kenal disiplin, yang dapat dipercaya”
(PK Ojong)
Begitu banyak label yang kita lekatkan pada anak-anak muda sekarang yang dikenal dengan gen Z dan gen Alfa. Mereka sering dituduh tidak pandai berkomunitasi, lembek, cepat patah semangat, sampai pembosan. Kecanggihan teknologi memang disinyalir jadi salah satu penyebabnya. Demikian isi paragraf pertama, tulisan Eillen Rachman & Emilia Jakob bejudul, “Generasi Cemas,” Kompas, Sabtu/Minggu, 7/8 Februari 2026.
Faktor yang Berkontribusi pada Fenomena Cemas ini
Gen Z hadir di bumi ini antara tahun (1997-2012), dan sungguh riil, bahwa mereka mengalami kecemasan dan stres. Bahkan mereka pun sering dituduh sebagai generasi yang lembek, mudah loyo, tidak beretika, dan pembosan. Nah apa saja faktor-faktor penyebabnya itu?
- Penggunaan medsos yang berlebihan. Hal ini sudah jadi sebuah fakta unik.
- Tekanan dari pihak sekolah dan ekspektasi berlebihan dari orangtua.
- Ketidakpastian akan masa depan mereka.
- Paparan berita yang negatif dan kekerasan media.
Selain itu, gen Z menerima aneka tantangan yang paling khas antara lain:
- Lewat medsos pula mereka berlomba untuk pamer dan membandingkan diri dengan orang lain.
- Akibat kecanduan pada teknologi, maka mereka pun kehilangan kemampuan sosialnya.
- Mereka sulit memisahkan antara realitas online dan offline.
Berdasarkan aneka Fakta Pahit ini, Maka Gen Z sangat Membutuhkan Figur-figur Ideal demi Membangun Kehidupan Mereka.
Figur-figur yang paling dekat dengan gen Z adalah para orangtua dan para pendidik.
- Gen Z membutuhkan figur para orangtua dan pendidik yang sanggup ‘mendengarkan dan mendukung’ mereka secara emosional.
- Mengajak gen Z untuk bisa mengatasi dan mengelola gejolak emosi mereka sendiri.
- Mampu membatasi generasi Z dalam menggunakan medsos dan teknologi.
- Menyadarkan dan meningkatkan kesadaran gen Z akan pentingnya keseimbangan dan keselarasan hidup.
Sekali lagi, semoga generasi Z kita memiliki figur orangtua dan pendidik yang sungguh memahami gejolak jiwa serta dunia anak gen Z.
Itulah beberapa model pendekatan untuk mengatasi tingkat kecemasan serta stres di kalangan geberasi Z.
Riset Unicef
Berdasarkan riset dari Unicef dari tujuh negara, memperlihatkan paradoks yang menarik: gen Z adalah generasi yang paling terhubung, paling sadar, dan pada saat yang sama justru paling rentan terhadap yang tidak menentu. Juga mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap dunia yang lebih baik, tetapi memikul kecemasan tinggi terhadap dunia yang mereka warisi. Demikian Eillen & Emilia.
Refleksi
“Anak-anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan.
Mereka tidak lahir dari kamu, tetapi melalui kamu. Dan meskipun
bersamamu, mereka bukanlah milikmu.”
(Mereka itu unik dan memiliki jiwanya sendiri)
The Prophet/sang Nabi
(Khalil Gibran)
Dunia tidak membutuhkan generasi yang sempurna. Dunia membutuhkan generasi yang mampu bertahan, berpikir, berempati, dan mengambil alih masa depan yang sedang datang. Demikian Eillen & Emilia mengakhiri tulisan mereka.
Kediri, 9 Februari 2026

