| Red-Joss.com | Kata-kata (alm) Bapak menggedor kesadaranku kembali. Aku seperti terjaga dari mimpi buruk.
“Le, jika kau bekerja dalam bidang pelayanan sosial, kau harus ikhlas. Jangan berhitung dagang atau cari keuntungan, supaya kau tidak alami kesulitan sendiri.”
Aku termangu dalam kebimbangan. Aku ingat perjuangan Bapak yang Kaling itu ke luar masuk kampung dengan sepeda bututnya. Tak kenal waktu dan lelah untuk melayani umat. Semua itu dijalani Bapak dengan sukacita.
Sebenarnya, apa yang dicari Bapak?
“Mengabdi itu panggilan hati untuk melayani dan memuliakan Allah. Tidak mencari, tapi mengolah. Karena kebutuhan kita telah disediakan oleh-Nya,” jelas Bapak, meski belum sepenuhnya aku memahami maksudnya itu.
Seiring perjalanan waktu, pikiranku dibukakan Allah, ketika aku bekerja sebagai wartawan di suatu media lokal. Aku senang memotret hidup keseharian orang-orang sederhana, karena aku ingin belajar makna hidup dari mereka.
“Orang salah itu wajib diingatkan, Le. Tidak untuk disalahkan dan dihakimi, tapi diperbaiki dan diberi contoh yang benar agar kesalahan itu tidak diulangi lagi.”
Kata-kata sakti Bapak, juga kulihat nyata lewat teladan seorang Uskup, ketika seorang Gembala umat minta fasilitas kendaraan dinas. Beliau memberi contoh makna kesederhanaan dan kerendahan hati. Untuk lebih mengutamakan dan mementingkan pembangunan rohani umat daripada tampilan yang membius.
Dari Bapak, akubelajar tentang arti keikhlasan hati dalam melayani sesama. Tidak untuk pembenaran, apalagi demi perkaya diri, karena melayani itu panggilan hati.
Aku ingat Yesus yang mengusir semua orang yang berdagang di halaman Bait Allah dengan membalikkan meja-meja dan bangku (Mat 21: 12-16). Adakah kita mau sadari dan peduli hal itu agar tidak mencontoh para pedagang itu?
Hal yang memalukan dan konyol itu, ternyata dilakukan oleh anakku yang ikut-ikutan teman dengan mengenakan t-shirt bertuliskan: “Gembala Pergilah Cepat-cepat.”
Padahal, Romo yang gembala umat itu memangkas biaya pengeluaran Gereja yang tidak penting, karena pertanggung-jawabannya pada Keuskupan. Romo tidak bersalah, tapi orang-orang di sekitarnya yang keliru dan ingin memanfaatkannya.
Setelah memperoleh penjelasan anak, aku ganti membuka wawasan berpikirnya agar anak tidak mudah dihasut. Apalagi demi setia kawan, yang konon sekadar berasumsi: ‘jarene’ tanpa melihat kebenaran dan fakta di lapangan.
Aku juga tidak menyalahkan anak, tapi mengingatkannya agar tidak sembrono, ikut-ikutan, dan demi kesetiakawanan yang keliru. Maksud dan tujuanku agar anak mau membuka hati dan belajar menyikapi gosip itu dengan bijaksana.
Berbuat salah itu biasa, merasa benar sendiri itu suloyo. Menjadi luar biasa, ketika kita mau mengedepankan hati untuk refleksi diri. Karena hidup kita sesungguhnya saluran berkat Allah.
…
Mas Redjo

