| Red-Joss.com | Kehadirannya ke Indonesia menyerukan kepada semua pamong jadilah ‘Otentik’,
bukan ‘Kosmetik’.
Kunjungan Paus Fransiskus meninggalkan kesan sangat dalam. Rasanya, belum ada pemimpin agama sekaligus negara yang dielu-elu seperti Paus Fransiskus. Tak ada sosok begitu “menyihir” seperti beliau. Hadirnya di Indonesia, jadi ‘trending topic’ di semua media. Ia menenggelamkan berita intrik dan dinasti politik yang acap membuat jijik.
Cendekiawan Muslim Prof. Komaruddin Hidayat, berkata: “Kunjungan Paus Fransiskus itu healing untuk bangsa Indonesia.”
Budiman T, wartawan kompas, berkomentar: “yang paling mengesan dari Paus adalah genuine asli.” Dari seluruh sikap, penampilan, gaya dan kepribadiannya, menampilkan pribadi yang otentik, bukan kosmetik. Perilaku asli, bukan polesan.
Banyak terpesona, karena jubah tua, sepatu hitam yang lusuh, makan nasi goreng di pesawat, duduk di samping Pak sopir, dadadada dari jendela mobil Kijang yang terbuka, menegaskan…. ya memang itulah Bapak dan Gembala kita, sederhana dan begitu pula caranya menyapa kita.
Yang terpancar adalah auranya yang asli, genuine, otentik, bukan dalam wajah selebritis berparas tampan, tapi wajah tua 87 th di kursi roda yang keramahan dan senyumnya merangkul semua.
Banyak orang Katolik, kini bangga dipimpin Gembala seperti Paus Fransiskus. Mata dan hati umat terbuka, bahwa kesederhanaannya ternyata menghanyutkan.
Benar peribahasa Latin ini: verba docent, exempla trahunt. Kata-kata memang mengajar. Tapi tindakanlah yang memberi teladan. Kotbah, sambutan, dan ajaran Paus Fransiskus itu berbobot. Namun, karena ia melaksanakan apa yang diajarkannya itu maka teladan hidup, kesederhanaan, dan teladan keutamaannya itu sungguh bicara. Sebuah kesaksian hidup yang
dashyat sekali.
Selamat datang pamong-pamong komunitas umat iman. Paus Fransiskus berpesan: “Jadi otentik, bukan kosmetik, verba docent, exempla trahunt (teladanmu lebih dibutuhkan dari pada kata-katamu).
Salam sehat.
…
Jlitheng

