Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah deskripsi imajinatif tentang potret sebuah ziarah kehidupan anak manusia.”
(Didaktika Misteri Kehidupan)
Simbol Arah Kehidupan
Pernahkah di suatu senja menerawang, ketika dengan cermat Anda menyaksikan pergerakan perlahan gemawan yang berarak di kaki langit?
Di saat itu, apa yang ada di dalam benak kesadaran Anda? Jika hanya memaknakannya secara fisik alamiah, maka sejatinya, Anda telah menyempitkan cakrawala mata kesadaran Anda. Jika Anda memaknakannya secara filosofis, maka Anda akan mampu membuka cakrawala sadar Anda, bahwa pemandangan itu adalah sebuah simbol dari dinamika gerak kehidupan manusia.
Tiga Titik Sentral Gerak Kehidupan Manusia
- Titik Kelahiran. Inilah sebagai titik awal dari kehidupan manusia. Pada titik ini, seluruh gerak hidup Anda sangat bergantung pada kebaikan dan kasih sayang orangtua Anda.
- Titik Perjuangan. Pada titik penting ini, Anda telah berstatus sebagai orang dewasa yang berjuang hidup pun mati demi kejayaan kehidupan Anda.
- Titik Akhir. Inilah finalisasi dari seluruh proses perjuangan Anda. Kini Anda telah berstatus sebagai pensiunan.
Pada ketiga titik sentral kehidupan ini, Anda telah turut berproses: dibentuk dan membentuk diri yang akan berakhir pada peristiwa kematian, sebagai titik paling akhir dari sebuah kehidupan.
Beraraklah Bersama Sang Gemawan
Sungguh, kehidupan yang bermula dari sebuah titik awal itu akan bergerak menuju ke sebuah titik paling akhir. Semuanya itu akan mengalir dan menuju ke sebuah titik akhir yang satu dan sama.
Dalam konteks refleksi ini, saya teringat akan konsep filsafat sang Heracleitos, bahwa segala sesuatu di atas bumi ini tak ada yang abadi. Namun, semuanya itu akan mengalir dan berubah, yang disebut ‘phanta rei.’
Maka ketahui, sadari, dan yakinilah, bahwa gerakan seluruh proses dalam ziarah hidup ini dapat disimbolkan dengan gerakan gemawan berarak di kaki langit senja.
Beraraklah bersama gemawan senja. Karena ke sanalah tujuan hidup Anda akan berakhir.
Refleksi
“Tuhanku, sungguh hatiku tidaklah tenteram, sebelum aku beristirahat di bawah naungan kuasa-Mu!”
(Santo Agustinus)
Wolotopo, Ende, 28 Mei 2025

