Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Bung Karno mengenalkan Pancasila di setiap lawatannya ke luar negeri, tak terkecuali
Vatikan. Kini putrinya, Megawati Soekarnoputri menawarkan Pancasila sebagai solusi atas
persoalan dunia.”
(Antara Megawati, Soekarno, dan Gema Pancasila di Dunia)
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi bebas serta personal (saya), setelah mencermati isi tulisan ‘laporan’ harian Kompas, Minggu, (9/2/2025) kolom Politik & Hukum yang berjudul, “Megawati, Bung Karno, dan Gema Pancasila di Vatikan. Sesuai Laporan Anita Yossihara dari Vatikan.
Megawati Soekarnoputri tercekat menahan tangis saat bercerita mengenai Ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno, di hadapan Presiden Scholas Occurentes Jose Maria del Corral di Vatikan, Selasa (4/2/2025). Megawati meyakini pemikiran-pemikiran Ayahnya baik untuk masa depan dunia. Demikian isi paragraf pertama dari tulisan itu.
Selanjutnya, Megawati merasa terharu, karena Pancasila merupakan buah pikiran dari Bung Karno. Ia lantas menceritakan, bahwa pemikiran-pemikiran Presiden pertama RI itu sudah melampaui zamannya. Gagasan-gagasan Bung Karno bersifat universal dan bertujuan untuk mewujudkan dunia yang baik.
Menginspirasi Dunia
Adalah sebuah fakta menarik, bahwa sang Puteri, Megawati selalu mau mengenalkan kembali Pancasila ke mana pun beliau berkunjung. Karena baginya, Pancasila sungguh akan menginspirasi dunia dalam mewujudkan cita-cita menciptakan tatanan dunia yang ideal. Bagi Megawati, butir-butir di dalam Pancasila tidak saja untuk masyarakat Indonesia, tapi juga dunia.
Apresiasi Paus Fransiskus
“Sri Paus sangat tertarik dengan Pancasila, gotong royong, seperti yang saya sampaikan saat summit,” demikian Megawati. “Paus khususnya sangat setuju dengan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Megawati berpendapat, bahwa seharusnya sudah tidak ada lagi peperangan di dunia.
Bung Karno, Takhta Suci, dan Penghargaan Tertinggi Vatikan
Tercatat dalam sejarah persahabatan antara Indonesia dan Vatikan, bahwa Bung Karno telah berkunjung ke Vatikan sebanyak tiga kali. Kesempatan emas itu terjadi di sepanjang tahun 1956 hingga 1964.
Selama itu Bung Karno telah tiga kali mendapatkan penghargaan tertinggi dari Vatikan dari tangan tiga Paus yang berbeda.
Adapun medali pertama disematkan oleh Sri Paus Pius XII pada 13 Juni 1956. Penghargaan kedua, disematkan oleh Sri Paus Yohanes XXIII pada 14 Mei 1959. Penghargaan ketiga, disematkan oleh Sri Paus Paulus VI pada 12 Oktober 1964.
Kesaksian Putra Sulung Bung Karno, Guntur
Guntur, yang selalu setia mendampingi sang Ayah bersaksi, bahwa saat lawatan tahun 1956, Bung Karno mengenalkan ajudannya Mayor Korps Komando Angkatan Laut (KKO) kepada Sri Paus Pius XII, bahwa Bernardus Bambang Wijanarko adalah penganut Katolik. Mendengar penjelasan itu, Sri Paus terperanjat, karena tidak menyangka seorang Presiden di negara mayoritas Islam justru mempunyai ajudan beragama Katolik.
Sri Paus pun mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Bung Karno.
Reaksi Bung Karno
Ternyata Bung Karno sangat berbangga atas penghargaan yang telah diterimanya dari Vatikan. Inilah kesaksian Cindy Adams seperti yang tertulis dalam buku Untold Story Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Aku orang Islam hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan.”
Kini Giliran Sang Putri, Megawati Soekarnoputri
Kini Gema Pancasila terus dikumandangkan oleh Megawati Soekarnoputri meneruskan jejak langkah Ayahnya. Karena beliau sungguh meyakini, bahwa Pancasila itu bersifat universal, sehingga diyakininya dapat diterapkan oleh segala bangsa.
Bagaimana Sikap Kita?
Bagaimana dengan sikap kita selaku warga masyarakat? Dapatkah kita dalam hidup harian menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila?
Hal: toleransi, kemanusiaan, kebangsaan, dan keadilan yang semakin kompleks saat ini. Demikian Anita Yossihara mengakhiri laporannya dari Vatikan.
…
Kediri, 14 Februari 2025

