“GELAS – Genggam Eratlah ‘Love and Sarifice’.” – Rio, Scj.
Gelas… sarana rumah tangga yang satu ini setiap hari selalu dicari, disentuh, digenggam dan dipakai sebagai tempat untuk mengambil air minum guna memuaskan rasa dahaga dan haus kita.
Setiap hari kita menggunakannya. Manakala haus pertama kali yang kita cari adalah gelas, lalu air. Sederhana, tapi selalu dicari dan dekat dengan kita.
Coba, setiap kali kita mengambil ‘gelas’, ingatlah genggam eratlah ‘love and sacrifice’. Biarlah dua kata itu memuaskan dahaga rohani kita.
Love: kasih adalah hukum yang paling utama bagi kita. Tuhan pun menegaskan, “Kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, segenap tenagamu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bila kasih itu tinggal di hati ini, maja sukacita dan kebahagiaan hidup kian terasa. Bila air menyergarkan dan memuaskan dahaga, buarlah kasih itu menebar kesabaran, tak mudah marah, tak cemburu, dan membawa damai.
Katakan dalam hati saat kita meletakan gelas setelah kita minun “biarlah kasih yang tinggal dalam diri ini dan biarlah menghasilkan buah.”
Sacrifice: persembahan diri. Salah satu keutamaan selanjutnya yang dapat kita renungkan di waktu kita menyentuh gelas adalah ‘sacrifice’. Ingatlah kata ini saat malam hari sebelum tidur. Katakan dalam hati saat terakhir kali kita memegang gelas hari ini sebelum kita istirahat “Tuhan inilah persembahan yang dapat aku berikan hari ini, semoga Engkau berkenan.”
Syukurilah pengalaman hidup hari ini, karena kita dilimpahi hidup dan boleh berkarya.
GELAS – genggam eratlah ‘love and sacrifice’.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

