Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sang waktu dengan setia telah menyadarkan aku, bahwa segala sesuatu itu memang ada, hidup, dan bertumbuh sesuai kehendak Sang Ilahi.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Tentang sang Waktu
Memori sang manusia perihal adanya ‘garis sang waktu,’ itu memang ada dan hadir di dalam pikiran, perasaan, serta kenangan manusia akan sesuatu, apa saja yang telah mewarnai suasana kehidupan manusia.
Lembaran demi lembaran, kenangan demi kenangan yang jadi kian usang toh akhirnya jadi sebuah harapan dan memori juga.
Providentia Dei
Biasanya semua kenangan itu akan terurai dalam sebuah harapan dengan adanya sebuah hari depan.
Diyakini pula, bahwa ada tangan yang mengatur dan menata dari dan di balik bentangan layar kehidupan ini. Sang Dia yang mengarahkan seluruh garis waktu perjalanan hidup ini.
Bukankah totalitas garis waktu dalam hidup ini justru ada dan berada di dalam genggaman Tuhan?
Hidup dan Mati di Dalam Tangan Tuhan
Kita manusia boleh berencana, boleh berikhtiar, dan boleh juga berjuang mati-matian demi meraih suatu impian sebagai asa dalam hidup kita.
Tapi semua itu akhirnya berpulang pada rencana dan kehendak Sang Ilahi. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukankah jalan-Ku.” (Yesaya 55: 89).
Sejatinya, melintasi garis waktu dalam arena hidup ini dibutuhkan suatu kesadaran total. Karena tanpa disertai suatu kesadaran, hidup ini justru akan jadi runyam dan kian tak bermakna.
Sehingga kita sendiri yang harus memberikan makna dan arti penting pada garis waktu hidup ini. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran dan sikap konsisten pada tujuan hidup ini.
Untuk meraih dan mencapai garis finis sebagai batas akhir kehidupan itu sangat dibutuhkan pribadi yang berspiritualitas dan berpegang teguh pada iman serta keyakinan.
Apa artinya jadi seorang manusia, jika tidak memiliki dasar dan sandaran pada iman yang sejati?
Karena sejatinya, bahwa manusia itu justru hidup, bergerak, dan berada di dalam relungan waktu.
Sang waktulah yang akan menyadarkan kita akan arti dan makna sejati dari segaris waktu hidup ini!
…
Kediri, 10 November 2024

