Belajar dari garam, tidak terlihat namun dirasakan.
Layaknya butiran kristal garam itu tidak terlihat, namun terasa. Maka apa yang kita berikan pada orang lain pun tidak perlu terlihat, namun terasa manfaatnya.
Guru Kehidupan kita tidak membutuhkan sanjungan orang banyak. Ia juga tidak minta untuk dikenal orang banyak. Namun, Ia lebih memilih untuk mati dalam diri sendiri. Maknanya ialah, apabila kita dilupakan, tidak dikenal, atau tidak dianggap sama sekali, kita tidak sakit hati terhadap kelalaian itu. Tapi sebaliknya, hati kita tetap gembira, merasa layak untuk menderita bersama Guru Kehidupan kita.
Hari ini saya ingin menerapkan satu peran garam, menjadi pengawet. Lewat sapaan ini saya ingin mengawetkan persahabatan kita.
Salam sehat dan selamat jadi pengawet kebaikan dengan sesama.
…
Jlitheng

