| Red-Joss.com | Dingin bukan main pagi ini. Mungkin, karena seharian hujan tidak henti kemarin. Suasana pagi terass makin sunyi.
Lantas ingat peristiwa 60an tahun silam. Antara 60/61. Di pagi seperti ini. Dinginnya lebih dingin, habis hujan seharian, di kaki gunung, di pinggir hutan rumah kami.
Memaksa kami mancal sarung lagi. Njingkrung mempertahankan hangat tubuh yang tak seberapa. Tiba-tiba sunyi yang dingin itu dipecah oleh jeritan ayam … keok, keok, keok yang menjauh, diterkam dan digondol (musang). Musang lagi dan lagi… Satu lagi ayam betina hilang. Hilang pula butir-butir harapan dari telor yang tidak jadi nyata. Satu telor satu kobok beras. Masih jauh larut malam, sudah berkeliaran musang yang berburu ayam.
Tentang musang, Daoed Josoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari 1978 -1983, menulis tentang “Musang berbulu ayam.” Pernah dimuat di Harian Kompas 2014.
Ungkapan Daoed Joesoef itu, masih hidup hingga kini. Musang berbulu ayam berkeliaran di mana-mana.
Kiasan ini mirip dengan kiasan serigala berbulu domba. Sekalipun musang telah berbulu ayam; sekalipun serigala berbulu domba, tetap saja watak buruknya tidak dapat dihilangkan. “Lupus pilum mutat, non mentem,” serigala mengganti mantel (bulunya), bukan wataknya. Begitu kata pepatah.
Seseorang yang dari luar terlihat baik dan lembut, padahal sangat kejam dan culas. Itulah serigala berbulu domba atau musang berbulu ayam. Mencelakakan, menipu atau berkhianat terhadap teman atau keluarga, umat atau rakyat sendiri, itu sifatnya!
Fenomena musang berbulu ayam, dalam wajah-wajah anak muda pejuang keadilan bentukan bohir-bohir tak berperikemanusiaan itu, sangat mewarnai jagad medsos hari-hari ini. Tampil, sangat mengenaskan, culun, innocent, tanpa rasa bersalah, mempidatokan kebenaran-kebenaran palsu dan menghidupkan kembali penyesatan “isih luwih enak jamanku to.”
Diam saja, tapi ‘senenge maido’, tidak memberi solusi, membayar kebaikan orang lemah demi keuntungan pribadi, terlalu perhitungan, tidak mau bergetah, inginnya selalu bersih.
Mungkin itu wajah musang berbulu ayam yang makin tak mudah ditengarai.
Luntur sudah semangat kebangkitan. Di dalam diri ini ternyata masih banyak tersimpan data-data lama yang perlu dibersihkan bahkan dibuang.
Jika tidak dibersihkan bahkan dibuang, doa, puasa bahkan Paskah pun tidak akan merubah banyak. Sebab akar gelapnya masih hidup.
Ya Tuhan, saya tidak pantas datang kepada-Mu. Bersabdalah saja maka saya akan sembuh.
Salam sehat dan tetap tekun berbagi cahaya.
…
Jlitheng

