“Orang yang gagal itu tidak berarti bodoh, tapi sejatinya ia tidak memahami permasalahannya.” -Mas Redjo
Disadari dan diakui, atau tidak, ketika gagal dalam studi, usaha, atau hidup ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Tapi dapat dipastikan, faktor dominan dari kegagalan itu adalah kita tidak memahami persoalan dengan baik. Kita gagal paham.
Tidak ada guna kita mencari dan menyalahkan orang lain atau sikon.
Alangkah bijak, jika kita berani terus terang dan jujur, bahwa kita gagal paham terhadap persoalan yang dihadapi itu.
Misalnya, ketika diadakan ulangan secara mendadak, nilai kita jeblok. Kita langsung menuduh dan menyalahkan Guru yang memberi ulangan itu. Padahal kesalahan itu mutlak ada pada kita yang gagal memahami makna pelajar itu harus belajar dan selalu siap sedia, jika sewaktu-waktu diuji ulangan, bahkan termasuk ujian hidup ini secara nyata.
Kita gagal dalam berbisnis, karena ditipu, dibohongi, atau dagangan kita dibawa kabur oleh pelanggan.
Kita peduli dan berbagi pada sesama, tapi tidak dipedulikan, ditanggapi, atau bahkan dituduh sebagai pencitraan.
Stop! Sebelum menyalahkan orang lain, lebih baik kita bertanya pada diri sendiri. Mengapa semua itu terjadi?
Demi mengejar omset besar dan keuntungan, kita asal percaya pada pelanggan. Kita jadi lengah dan tidak hati-hati. Akibatnya, kita tertipu dan rugi.
Begitu pula, jika kita berbuat baik pada sesama itu dituntut ikhlas hati. Kita mencari pengakuan dan penilaian. Karena berbagi dengan ikhlas itu untuk dilupakan.
Sejatinya dengan membiasakan berefleksi dan mawas diri, hidup kita makin semarak untuk selalu “eling lan waspada.”
Dengan belajar dari pengalaman, kita melihat hikmat Tuhan agar kita jadi cerdik pandai dan bijaksana.
Dengan memahami permasalahan yang dihadapi dan dijalani, kita temukan solusi dan jalan ke luarnya.
Memahami itu tidak untuk gagal!
Mas Redjo

