Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
"Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, Anda telah memilih pihak penindas, otoriter, tiran, dan fasis."
(Desmond Tutu)
Seruan Kenabian
“Di tengah iklim ketakutan yang diciptakan, harus ada di antara kita yang terpanggil untuk menyalakan sinar kebenaran. Panggilan moral untuk berpihak pada kebenaran. Kepada mereka yang bersikap netral dan bergaya hidup dalam zona nyaman, simaklah petuah Desmond Tutu, peraih Nobel Perdamaian 1984. Demikian isi paragraf pertama tulisan Sukidi, (Pemikir Kebinekaan) dalam kolom Umum, harian Kompas, Kamis (19/12/2024), berjudul “Merawat Suara Kebenaran.”
Beranilah Bersikap
Tulisan ini memang bernada keras dan sangat transparan sebagai himbauan agar kita, warga negara ini berani untuk bersikap tegas dan jelas, serta tidak bersikap netral alias abu-abu.
Beliau berpendapat, hendaklah di dalam iklim praktik ketidakadilan dan tipu muslihat sebagai perusak moral republik, hendaklah kita berani bersuara.
Dikatakannya, bahwa kaum fasis telah membunuh kebenaran itu demi berhala kekuasaan. Bahkan kebohongan dibiarkan bertumbuh subur hanya demi melanggengkan kekuasaannya. Anehnya, ada di antara kita yang justru terbuai.
Wabah sentimen moral ini justru telah merusak jiwa warga bangsa, bahkan di antara sesama warga tumbuh sikap saling menyikut.
Semoga kita semua berani untuk bersuara lantang, karena bukankan suara rakyat itu adalah suara Tuhan? (Vox Populi Vox Dei).
Sepenggal Doa Mahatma Gandhi
“Ya Tuhan, bimbinglah aku dari dusta menuju kebenaran, dari kebenaran menuju cahaya, dari kematian menuju kehidupan.” Demikian Sukidi mengakhiri tulisannya.
Kediri, 21 Desember 2024

