Olejh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang yang paling tenang hidupnya ialah
si tukang parkir.” (Zainudin MZ)
| Red-Joss.com | tulah isi penggalan khotbah dari sang Kiyai kondang Zainudin MZ.
Koq bisa? Mengapa? Apa esensi fundamentalnya?
Si tukang parkir itu, ternyata tidak pernah merasa memiliki apa pun di atas bumi maya ini.
Lihatlah fakta riil di lapangan hidup ini. Kepadanya dititipi sangat banyak mobil dari dan dengan beraneka merek serta jenis.
Mulai mobil yang hanya seharga ratusan jutaan hingga ke jenis mobil yang berharga lebih dari satu miliar.
Ketika mobil-mobil itu mulai satu – persatu memasuki area parkir, si tukang parkir itu tidak pernah merasa di atas awan alias ‘GR’ (gede rasa).
Juga, di saat si kotak-kotak besi mengkilap itu mulai meninggalkan satu demi satu, dia pun tak pernah kehilangan ‘PD’ (percaya diri) atau bahkan meratapinya.
Mengapa demikian? Karena tukang parkir itu tidak merasa memiliki semua itu. Dia hanya merasa dititipi.
Dia tidak merasa kehilangan atau pun merisaukannya, karena semua mobil elite itu baginya hanya barang titipan.
Dalam konteks ini, tentu sangat berbeda dengan orang-orang merasa memilikinya.
Maka, mereka pun perlu bersiap diri untuk kehilangan barang-barang itu. Itulah suatu yang sungguh sangat menyakitkan.
Dari balik amanat terselubung isi khotbah sang kiyai kondang itu, kepada kita, dititipi amanat, agar “jangan kita terikat atau melekat pada harta duniawi.”
Karena bukankah semua harta duniawi ini hanya titipan dari Sang Ilahi? Semua harta kekayaan itu dipinjamkan dengan cara dititipkan.
Maka, kini sadarlah kita, mengapa kita manusia, akan sangat terpukul serta meratapi sebuah kehilangan?
Ya, itulah pahitnya hidup, jika kita sangat terikat dan melekat pada barang duniawi semata.
Inilah keagungan dari pribadi orang-orang yang selalu bersikap untuk melepas bebas!
“Janganlah engkau terus menggenggam sekeping koin karat itu di dalam genggamanmu!”
…
Kediri, 15 April 2024

