Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Secara alamiah dan
filosofis serigala pun
dapat jadi guru
kebijaksanaan bagi
manusia.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Serigala, Oh, Serigala
Bukankah, ketika kita mendengar ucapan ‘serigala’, kita akan segera mengasosiasikannya sebagai seekor hewan buas yang perlu dijauhi, bukan?
Bahkan bukankah kata ‘serigala’ sebagai seekor binatang, justru beberapa kali tampil di dalam Al Kitab? Semisal, ‘serigala berbulu domba,’ ‘serigala pun memiliki liang,’ dan bukankah ini adalah ucapan Yesus Sang Guru di dalam pendekatan pengajaran-Nya.
Hiduplah Laksana Seekor Serigala
Sub judul di atas ini merupakan sebuah ajakan, agar di dalam hidup ini, kita sudi belajar dari kearifan seekor serigala.
Mengapa kita justru diajak oleh sang arifin agar hidup laksana seekor serigala?
Ternyata, seekor serigala itu…
- Tidak memakan bangkai, namun justru daging segar. Dalam konteks ini, serigala itu tergolong sebagai hewan yang bersih dan berkelas, bukan?
- Tidak kawin sedarah. Inilah sejenis hewan yang beretika luhur. Ia tidak sudi mengawini ibu atau saudarinya.
- Tidak mengingkari cinta pasangannya. Ia akan setia sampai mati. Bahkan tatkala pasangannya mati, ia akan bersedih bahkan hingga setahun. Bukti lain dari kesetiaannya, ialah pasangannya itu akan segera mati, setelah kepergian dari pasangannya.
- Tidak kurang ajar kepada orangtuanya. Maka, serigala dijuluki sebagai hewan yang paling berbakti dan hormat kepada orangtuanya. Juga tatkala orangtuanya sudah tak berdaya, mereka akan menetap di dalam sarang, sedangkan anak-anaknya akan mencari nafkah.
Bagaimana Kita?
Setelah dengan saksama mencermati sejumlah kearifan dari seekor serigala, kearifan apa sajakah yang pantas kita teladani?
Nilai-nilai Luhur Kehidupan dan Tantangannya
Adapun sejumlah nilai luhur yang ditampilkan oleh seekor serigala: ‘nilai kesetiaan, tataetika kesopanan, pengabdian, dan pengorbanan.’
Di balik amanat berupa sejumlah sikap kearifan, saya mau menyodorkan sejumlah tantangan kepada kita.
Sanggupkah kita sebagai makhluk yang berakal budi, untuk meneladani sejumlah kearifan dari seekor serigala?
Inilah pernyataan-pernyataan retoris yang saya ajukan!
- Sanggupkah kita bersikap setia kepada pasangan hidup kita?
- Sanggupkah kita untuk hidup beretika dan menjunjung tinggi moralitas?
- Sanggupkah kita untuk berbakti demi menyejahterakan orangtua dan keluarga kita?
Jika ternyata kita tidak menyanggupinya, maka “Apakah bedanya kita dengan seekor serigala?”
…
Kediri, 9 Februari 2025

