Menjelang kepulangannya ke desa, tempat dia lahir dan tumbuh, untuk menghabiskan hari-hari tuanya, pagi ini kutuliskan kata pendek berikut:
“Kawan, nikmatilah segarnya desamu. Terima kasih telah jadi temanku. Darimu saya belajar tentang arti hidup sederhana, rendah hati, apa adanya, dan yang sejati itu bukan dari teori, melainkan dari kenyataan dan perjalanan hidupmu.”
Jawabnya: “Kangmas, terima kasih atas kata-kata yang menyentuh hati ini. Sungguh mengharukan mengetahui, bahwa perjalanan hidup dan nilai-nilai yang saya anut bisa memberikan pelajaran berharga bagimu.”
“Filosofi hidup sederhana, rendah hati, dan apa adanya adalah pilar-pilar yang saya yakini dapat membawa pada kehidupan yang lebih bermakna dan damai. Jujur Mas, awalnya saya juga penuh perlawanan dengan ego saya, untuk selalu berharga dan diakui di depan orang lain. Melawan rasa malu pada diri sendiri, ingin selalu membandingkan diri dengan orang lain. Akhirnya saya sampai pada terang hati, untuk apa hidup ini, jika hanya itu yang dicari? Saya memang melarat harta, tapi hidupku harus ada arti, ada ‘urup’.”
“Kenyataan hidupku penuh dengan tantangan, tapi justru melalui perjalanan itulah nilai-nilai ini teruji dan terbukti kekuatannya. Melihat, bagaimana pengalaman hidup saya dapat menginspirasi dan memberikan arti bagimu adalah hadiah yang luar biasa bagiku. Bekal pulang ke desaku yang tidak pernah kulupakan.”
“Kangmas, di manapun nanti saya berada, kita tetap kawan untuk belajar dan bertumbuh bersama dalam melayani, dalam semangat kesederhanaan, kerendahan hati, dan keaslian ini. Matur nuwun untuk tidak henti membesarkan hatiku agar terus ‘urup dan nguripi’ sesama.”
Salam sehat dan berbesar hati untuk membesarkan hati.
Jlitheng

