Red-Joss.com – Tidak harus tersinggung, apalagi emosi, dan marah-marah seperti itu. Seharusnya, kita berbangga hati dibilang ‘bermental kerupuk’.
Lho?! Tidak harus kaget, melotot, atau sewot.
Sesungguhnya, ketika kita dibilang bermental kerupuk, yang mudah patah, dan hancur berantakan. Kita tidak harus tersinggung, sakit hati, dan mutung. Karena sebenarnya kita yang tahu keadaan diri sendiri.
Apa pun sikap, tanggapan, atau perilaku teman terhadap kita itu lebih baik disikapi secara positif dan rendah hati.
Sesungguhnya, ketika kita dibilang bermental kerupuk, saatnya kita merefleksi diri untuk bangkit agar hati diteguhkan, makin kuat, dan hidup makin baik lagi.
Sesungguhnya, ketika seseorang dikatakan bermental kerupuk berarti orang yang mengatakan itu tidak memahami filosofi proses produksi kerupuk yang renyah dan enak.
Sesungguhnya kerupuk mentah itu dijemur di bawah panas mahahari agar kering. Kerupuk itu lalu dioven, hingga makin kering. Selanjutnya, kerupuk itu digoreng dimasukkan ke dalam wajan yang berisi minyak setengah matang, lalu dipindahkan ke minyak yang lebih “joss”.
Hasilnya, kerupuk itu mengembang dengan maksimal. Selain rasanya renyah dan enak, kerupuk itu pun irit minyak goreng.
Dari proses mengolah kerupuk itu, sesungguhnya kita diajak bepikir cerdas dalam bekerja. Untuk mengenali pekerjaan itu, material yang digunakan, peralatannya, dan sdm-nya. Sehingga, dengan bekerja secara cerdas dan efektif, hasilnya pasti maksimal.
Jadi, jika kita dianggap bermental kerupuk itu tidak harus tersinggung. Tapi orang yang mengatai kita yang harus diwaspadai. Kenapa? Mungkin orang itu iri hati, benci, atau tidak bisa bekerja. Sehingga kita dijadikan pelampiasan atau kambing hitam.
Langkah bijak kita adalah tidak harus sakit hati atau mendendam. Sebaliknya orang itu kita ingatkan dan doakan agar sadar diri. Sekaligus hal itu sebagai cambuk bagi kita untuk menunjukkan kualitas diri agar kita bekerja makin baik lagi.
Bermental kerupuk? Kriuk dulu…!
…
Mas Redjo

