Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bila matahari bisa tertawa, maka jiwaku lebih mendekat kepada Tuhan.”
(Lord Byron)
Penyair Inggris
(1788-1824)
Sang Raja Siang
Matahari, oh ya, sang mentari, siapa yang tidak mengenal pada sumber cahaya raksasa nan abadi itu?
Tulisan ini merupakan sebuah ungkapan filosofis tentang sekeping mentari, si Raja Siang itu.
Ungkapan Bermakna
Ada sebuah ungkapan bermakna filosofis yang saya ingat, “Walaupun suami yang akan membangun rumah, tapi istri itu yang akan membawa matahari ke dalam rumah.” Hal ini bermakna, bahwa di dalam rumah nurani kita mutlak diperlukan seberkas cahaya mentari. Hal ini juga bertujuan, agar rumah nurani kita, sebagai kediaman jiwa tidak berada di dalam kegelapan.
Apa itu Matahari?
Secara denotatif matahari dimaknakan sebagai bintang di tata surya yang jadi sumber cahaya dan energi bagi planet kita.
Makna Spiritual Matahari
Mentari itu dapat melambangkan kehidupan, dan juga sebagai lambang energi, sebuah power dasyat, suatu kepastian, dan suatu kejernihan.
Sebagai simbol spiritual, matahari itu memancarkan energi keikhlasan tanpa pamrih memberikan sinarnya.
Matahari tak Ingkar Janji
Bahkan dia juga disimbolkan sebagai ‘suatu kesetiaan dan keabadian yang tak pernah ingkar janji’.
Pernahkah mentari terlambat bersinar dan terlambat pula kembali ke peraduannya? Maka, kesetiaannya adalah sebuah keabadian.
Beberapa Makna Filosofis
Berikut ini disajikan sejumlah makna filosofis dari mentari.
- Simbol ‘keberanian dan keteguhan hati.’
Sungguh, betapa berani dan teguhnya keberadaan serta kehadiran mentari di dalam kehidupan manusia di bumi ini. - Simbol ‘keberadaan yang memberi arti.’
Sungguh tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa keberadaan dan fungsi mentari telah memberikan makna serta arti bagi manusia. - Simbol ‘penerimaan dan pemberian.’
Sungguh mentari itu telah menampilkan suatu keikhlasan dalam penerimaan pun tulus mempersembahkan dirinya. - Simbol dari suatu ‘keabadian.’
Sungguh tidak dapat disangsikan, bahwa mentari itu benar-benar telah melambangkan suatu keabadian dalam kesetiaan serta keikhladannya. Itulah suatu kebaikan yang bersifat kekal.
Apa dan Bagaimana Peran Kita?
Apakah kita juga memiliki keunggulan yang selaras dengan keunggulan mentari?
Apakah secara filosofis kita juga memiliki sifat kesetiaan, keihlasan, dan sebagai pemberi terang bagi serta di dalam realitas kehidupan ini?
Sambil kita mau terus belajar dari keunggulan mentari, maka hal pertama dan utama yang hendak kita persembahkan kepada semesta adalah sifat dan sikap kesetiaan serta kerendahan hati.
Bukankah, Anda juga adalah sekeping mentari?
…
Kediri, 17 Desember 2024

