“Life happens, coffee helps.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Kalau hidup mempunyai filosofi, demikian pula kopi. Ngopi juga mempunyai filosofi, tapi dalam Bahasa Jawa. Ngopi artinya ‘ngolah pikiran’. Makanya kopi itu rasanya pahit. Tapi sepahit-pahitnya kopi bisa dijadikan manis atau legi. Legi itu ‘legawa neng ati’ atau berlapang dada.
Kopi akan manis, bila ditambah gulo atau gula, yang artinya ‘gulangane roso’ – mengolah perasaan baik. Bukan baperan, tapi mengolah perasaan-perasaan baik. Gula berasal dari tebu, tebu artinya ‘anteping kalbu’ atau mantap hatinya, mantab jiwa.
Kopi biasanya dituangkan ke dalam cangkir yang artinya ‘nyancangne pikir’ artinya menguatkan pikiran. Disiram dengan wedang atau air panas. ‘Wedang itu wejangan sing marai padang’, yang artinya nasihat yang menentramkan hati. Jangan lupa diudek atau diaduk, ‘usahane ojo mandek’, yang artinya dalam usahanya jangan pernah berhenti. Untuk mengaduk diperlukan sendok, ‘cendekno marang sing duwe kautaman’, yang artinya pasrahkan pada Yang Kuasa.
Minum kopi ditunggu sedikit adem. Adem itu ‘ati digowo lerem’ yang artinya hati dibawa tenang.
Setelah itu diseruput- ‘sedoyo rubedo bakal luput’, dalam artian semua godaan akan terhindar. Monggo ngopi tuk memaknai hari dengan filosofi kopi. Hidup kita pun akan menjadi berkat dan memberkati.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

