Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa yang tersembunyi di
balik tumpukan barang
bekas?”
(Amanat Agung Kehidupan)
Secara definitif barang-barang bekas alias sampah ialah barang-barang yang sudah tidak layak digunakan lagi.
Ditinjau secara filosofis, barang-barang bekas adalah sesuatu yang sudah tidak memiliki nilai pakai dan layak dibuang.
Apa yang terselubung di balik tumpukan busuk barang-barang bekas itu? Inilah pertanyaan reflektif serta menggelitik untuk kita semua.
Barang-barang bekas alias sampah. Tentang kehadiran dan keberadaannya itu sering dipermasalahkan, bahkan menjadi masalah besar bagi lingkungan hidup manusia. Mengapa?
Sampah itu sesuatu yang sudah dibuang, karena tidak layak dipakai. Artinya nilai praktisnya sudah hilang alias sudah tidak bernilai lagi.
Barang-barang bekas itu adalah sesuatu yang sudah ‘out of date’, sesuatu yang terbuang.
Bahkan sampah itu diidentikan dengan rongsokan atau sesuatu yang berbau busuk menyengat hidung manusia. Karena itu, sampah harus dibuang jauh-jauh dari lingkungan hidup manusia.
Di dalam dan di balik kenyataan ironis ini, sesungguhnya terselip sebuah fakta yang mengiris dada batin manusia. Mengapa?
Ya, saya menyodorkan secarik ungkapan miris, “saudara, sikapmu itu jangan bagaikan kacang melupakan kulit.”
Lewat ungkapan ini, terkandung sebuah amanat agung, bahwa hendaklah manusia itu tidak segera melupakan jasa-jasa baik dan asal-usul dirinya.
Sadari, bahwa barang-barang bekas itu adalah sesuatu yang bernilai di waktu lampau.
Dia, bahkan pernah dibeli atau dibuat dan disimpan rapi di dalam ingatan kita. Hal itu berarti, bahwa di waktu lampau dia pun memiliki nilai spesial.
Ada pun nilai agung yang hendak diangkat dan disadarkan oleh sang manusia, bahwa hendaklah kita, tidak mudah melupakan jasa baik dari orang yang telah menyejahterakan hidup kita. (Kawan lama, dilupakan jangan), demikian sepenggal syair dari sebuah lagu.
Marilah, di dalam hidup ini, hendaknya kita terus belajar untuk menghargai dan menjunjung tinggi jasa, nilai, serta pengorbanan dari apa dan siapa pun.”
Bukankah secara ekonomis, sampah pun masih memiliki nilai jual juga?
Kediri, 29 Februari 2024

