Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hari ini adalah semua yang kita miliki, besok adalah fatamorgana yang mungkin tak pernah menjadi kenyataan.”
(Louis L’ Amour)
…
“Karena sebenarnya hidup itu hanya fatamorgana dan mati itu kepastian.”
(Dini Fitria)
…
| Red-Joss.com | Sejarah nama/istilah, secara etimologis, kata ‘fatamorgana,’ berasal dari bahasa dan legenda Italia.
Ada penyihir Arthurian yang bernama, ‘Morgan le Fay,’ ‘Morgan si Peri,’ artinya, seorang peri yang rupanya selalu berubah-ubah.
Secara ilmiah, fenomena ‘fatamorgana’ adalah ilusi optik yang disebabkan oleh kondisi atmosfer. Wujudnya, berupa lapisan atau genangan air yang muncul di gurun pasir.
Saudaraku, ada pun makna kata fatamorgana di dalam konteks tulisan ini, suatu yang semu atau suatu bayangan yang tampak seperti ada, tetapi sebenarnya tidak ada. Suatu yang hanya sebatas semu yang dapat menyesatkan serta bahkan menjebak.
Jadi, esensi dasar dari tulisan ini, menyoroti ‘fakta kehidupan kita sang manusia yang kadang-kadang serba semu, kehidupan yang berupa bayangan-bayangan.
Saudara, kehidupan ini adalah suatu yang riil, suatu yang nyata. Sungguh berbahaya, jika kita memandang hidup ini, hanya sebagai suatu fatamorgana belaka, atau suatu bayang-bayang semata.
Jika kita sungguh sadar, bahwa hidup ini adalah sebuah realitas atau fakta yang sungguh menantang, maka hindarilah kebiasaan, yang hanya doyan akan kebanggaan semu. Bahkan, hindari pula cara berpikir dan bertindak hanya sebatas idealis. Mengapa demikian? Karena kehidupan ini adalah sebuah realitas.
Mimpi-mimpi palsu serta cita-cita melambung, hanya akan menjadikan kita pribadi yang terus bermimpi alias sang pemimpi abadi.
Mungkin, kita pernah mendengar sebuah teguran yang terkesan halus, namun sesungguhnya, sangat keras, “Janganlah engkau suka bermimpi di siang bolong!”
…
Kediri, 2 Mei 2023
Hari Pendidikanย Nasional
…
Foto ilustrasi: Istimewa

