“Tidak dengan emosi, tapi dengan kerendahan hati agar niat baik itu jadi nyata.” –Mas Redjo
Bersyukur, saya tidak terpancing emosi. Meskipun dada ini menyesak saking jengkel.
Bagaimana tidak. Pelanggan saya mempunyai hutang Rp 12 jutaan, tapi dibayar dengan tanah senilai Rp 400 jutaan. Saya diminta untuk membeli tanahnya, alias nombok! Uang dari mana?
Konyol, sekaligus menjengkelkan!
Coba dipikir. Pelanggan itu tidak membayar hutang. Jika ditagih, jawabnya tarsok-tarsok. Padahal ia mampu membeli mobil baru! Lebih konyol lagi, ia mengambil barang kebutuhan pabrik dialihkan kepada orang lain!
Saya sadar, jika menuruti emosi berarti uang saya hangus, alias hutangnya tidak dibayar. Untuk membeli tanahnya, saya belum butuh. Apalagi lokasi tanah itu di Gunung Sindur, Bogor, sedang rumah saya di Ciledug.
Saya menarik nafas panjang. Tiba-tiba saya ingat pelanggan ML yang melakukan hal serupa. Modus agar hutangnya lunas, padahal tujuan yang utama adalah menjual tanah.
Saya prihatin seprihatinnya, jika produsen itu memanen usahanya lebih cepat demi ‘ben-diarani’ dan gengsi. Mereka tidak menguatkan modal keuangan sebagai fondasi agar usahanya jadi kuat dan kokoh. Tapi untuk membeli barang-barang konsumtif.
Karena tidak mau uang hilang dan kehilangan pelanggan, dengan ragu-ragu saya mengusulkan agar tanah itu dicicil, ditukar dengan bahan bulanan kebutuhan di pabrik. Hal itu berarti saya harus mencicil tanahnya selama 4 tahun, jika rata-rata belanja bulannya Rp 12 jutaan.
Gayung disambut dengan baik. Usul itu disetujui. Berarti saya harus mengetatkan ikat pinggang dan hidup prihatin.
Kini, pekerjaan saya bertambah. Selain menjajakan dagangan, saya juga menawarkan tanah yang di Gunung Sindur atau milik teman yang dititipkan pada saya untuk dijualkan.
Rencana Tuhan amat baik, ketika kita merendah di hadirat-Nya untuk berserah dan mengandalkan-Nya. Ternyata tanah yang di Gunung Sindur itu cepat terjual. Begitu pula dengan rumah atau tanah teman yang dititipkan pada saya. “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.”
Meski hasil dari penjualan tanah atau rumah itu menggiurkan, tapi saya tidak meninggalkan profesi lama, yakni sebagai tukang plastik!
Mas Redjo
