“Memiliki usaha sendiri untuk diwariskan pada keluarga itu biasa. Yang luar biasa itu, jika kita sukses meneruskan estafet pelayanan kasih itu pada sesama.” -Mas Redjo
…
“Bagaimana caranya?!”
Pertanyaan itu menggedor pintu hati ini membuat saya terhenyak dalam keraguan, bimbang, dan kurang percaya diri.
Bagaimana tidak? Karena saya sadar diri, pelayanan pada sesama itu panggilan hati untuk mengabdi dan melayani Tuhan dengan menghadirkan wajah kasih-Nya.
Tujuan utama saya agar keluarga dekat dengan Tuhan, karena dosa kita ditebus dan diselamatkan-Nya. Sebagai Kristiani sejati, kita harus sadar diri untuk taat dan setia pada kehendak-Nya.
Karena itu saya berusaha keras dan mengarahkan anggota keluarga saya untuk mengeja-wantahkan imannya dalam melayani sesama itu sebagai ungkapan puji syukur atas karunia kasih Tuhan.
Bagi saya pribadi, hidup beriman itu adalah warisan utama dan pertama yang harus diwariskan pula pada anak cucu. Karena ada tertulis, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6: 33). Materi itu mudah hilang dan dimakan ngengat, tapi iman itu abadi. Percaya Tuhan itu harus sepenuh hati dan totalitas!
Untuk maksud itu, saya mendorong, mengajak, dan menemani anak-anak untuk aktif di Gereja dengan ikut misdinar, OMK, retret, rekoleksi, dan seterusnya. Tujuan saya yang lain adalah agar kelak mereka juga mendapat jodoh yang seiman.
Menghidupi keteladanan iman itu dari hati, lewat perilaku baik dan hidup doa agar peristiwa yang terjadi itu selaras dengan rencana dan kehendak Tuhan.
Kerendahan hati adalah dasar pelayanan kita pada sesama, karena Tuhan Yesus rela korbankan diri untuk kita.
Sejatinya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13).
Bangga melayani-Nya!
…
Mas Redjo

